Minggu, 09 September 2018

Resensi Novel: BULAN karya TERE LIYE


Judul                      : Bulan
Pengarang              : Tere Liye
Penerbit                 : PT. Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit          : 2015
Tebal                     : 400 halaman

Novel berjudul Bulan ini merupakan buku kedua dari serial novel Bumi. Memang tidak ada yang menarik dari sinopsisnya. Pembaca akan otomatis membaca buku ini setelah selesai membaca buku pertama, Bumi.
Masih menceritakan tentang petualangan Raib, Seli dan Ali di dimensi lain. Cerita berawal di bumi, sama seperti buku pertama. Bedanya, kali ini mereka lebih siap dengan segala hal yang akan terjadi. Bukan lagi dunia Klan Bulan tujuan mereka, tetapi dunia Klan Matahari, tanah leluhur Seli. Bersama dengan 3 orang lainnya, yakni Miss Selena, Av, dan Ily. Av, sang Penjaga Perpustakaan Klan Bulan memimpin rombongan ke dunia Klan Matahari untuk mencari sekutu melawan Si Tanpa Mahkota.
Kedatangan mereka mendapatkan sambutan yang sangat meriah dari klan matahari, sungguh sesuatu yang tak terduga. Di balik itu semua, ternyata sang Ketua Konsil Klan Matahari bernama Fala-tara-tana IV telah menyiapkan rencana lain. Ia meminta empat orang Klan Bulan mengikuti kompetisi mencari bunga matahari yang pertama kali mekar sebagai kontingen ke sepuluh. Mau tak mau Raib, Seli, Ali dan Ily mengikuti kompetisi yang tak mereka pahami itu atau negosiasi dibatalkan. Tentu saja, mereka tidak mau kunjungan ke dunia Klan Matahari ini sia-sia. Dengan persiapan yang cukup singkat mereka nekad terjun dalam kompetisi mengendarai harimau putih yang berasal dari dunia Klan Bulan.
Rintangan demi rintangan mereka hadapi. Menurut keterangan dari seseorang yang mereka temui, kompetisi ini tidak hanya sekadar rangkaian festival biasa. Semua peserta rela melakukan segala cara, termasuk melukai lawan untuk terus melaju. Mereka beruntung memiliki Ily di dalam kelompoknya karena lelaki itu merupakan lulusan akademi yang sangat terlatih dan cerdas. Dalam setiap rintangan kekuatan mereka terlihat semakin kuat. Seluruh energi dan pikiran mereka sangat terkuras dalam menghadapi segala rintangan. Di tengah keputusasaan, mereka masih mengutamakan nilai-nilai moral kemanusiaan. Berlawanan dengan cara pada umumnya yang menghalalkan segala cara.
Rintangan seperti serbuan gerombolan gorilla, serangan burung kenari pemakan daging, guyuran air bah, terjebak di tengah letupan jamur beracun, melewati lorong tikus, dan terakhir melawan musuh yang sangat hebat, secara tidak langsung memancing para pembaca untuk turut berpikir mencari cara melewatinya. Layaknya bermain catur. Masing-masing pion (tokoh) memiliki kekuatan dan kebiasaan yang berbeda. Kekuatan apa yang tepat digunakan? Dalam keadaan terdesak, siapa penolong yang akan muncul? Selalu menjadi tanda tanya. Dan bagian asyiknya, akan ada kekuatan-kekuatan baru yang muncul tanpa mereka sadari sebelumnya.
Para pecinta fantasi, misteri dan petualangan pasti akan merasa dimanjakan oleh cerita ini. Sayangnya, masih ada beberapa kelemahan. Pertama, ada sedikit typo yang kurang enak dipandang. Kedua, peralihan bahasa antar klan yang sedikit kurang teliti. Di buku pertama dijelaskan bahwa Raib secara otomatis dapat berkomunikasi menggunakan bahasa Klan Bulan karena ia berasal dari sana. Sama seperti Seli yang langsung memahami bahasa Klan Matahari. Sekarang kita fokuskan pada 6 tokoh utama; Raib, Seli, Ali, Ily, Av, dan Miss Selena. Raib, Seli, Ali dan Miss Selena dapat berbicara menggunakan bahasa Klan Bumi. Semua dapat menggunakan bahasa Klan Bulan, kecuali Seli. Sebaliknya, hanya Seli yang mampu menggunakan bahasa Klan Matahari. Jadi Ily dan Av tidak dapat berkomunikasi dengan Seli tanpa translator. Namun, ada sesi ketika Ily dan Seli hanya berdua sedang mengobrol. Bagaimana bisa? Ketiga, sedikit bisa ditebak. Buku satu dan dua berawal di dunia Klan Bumi, tetapi latar utama di dunia lain. Buku pertama berjudul Bumi, latar utama di dunia Klan Bulan. Buku kedua berjudul Bulan, latar utama di dunia Matahari. Buku ketiga berjudul Matahari, dan saya tebak latar utama akan berada di dunia Klan Bintang. Benarkah?
Apakah pendapat saya ini salah atau benar? Coba buktikan saja dengan membaca novel Bulan. Dijamin seru dan ketagihan terus membaca. Sampai sekarang saya ingin lanjut terus membaca buku ketiga yang berjudul Matahari. Kalau kamu penasaran seperti apa sih pendapat saya tentang buku pertama Bumi, baca di sini.
Terakhir, himbauan dari saya. Jangan membaca buku ini dalam keadaan sibuk atau terputus-putus. Akan mengurangi esensi cerita dan keseruannya. Apakah Raib dan kawan-kawan mampu menyelamatkan diri dari kejinya kompetisi ini? Pastikan kamu membaca buku yang orisinil untuk menghargai karya penulis.

Salam.

Jumat, 24 Agustus 2018

Resensi Novel : BUMI karya TERE LIYE


Judul                  : Bumi
Pengarang           : Tere Liye
Penerbit              : PT. Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit       : 2014
Tebal                  : 440 halaman

Siapa yang tak kenal dengan penulis kondang, Tere Liye. Hampir semua novel karyanya laris di pasaran. Tak hanya genre romansa. Tere Liye membuktikan diri mampu membius pembaca dengan genre lainnya, seperti: keluarga, religi, politik, juga fantasi.
Kali ini saya akan membahas sekuel pertama kisah fantasi berjudul Bumi. Sebelum membaca sinopsis, saya menduga-duga. Apakah buku ini membahas tentang asal muasal terbentuknya salah satu planet di tata surya, tempat tinggal kita, bumi? Atau membahas segala hal mengenai bumi? Bukankah terlalu banyak kisah yang menceritakan kehidupan bumi? Oke, saya lanjutkan membaca sinopsis.
Di situlah saya baru memahami bahwa novel ini bergenre fantasi setelah membaca kalimat, “Dan aku bisa menghilang.” Secara realita, manusia bisa menghilang dalam artian harfiah, merupakan sesuatu yang amat mustahil. Melalui sinopsis, Tere Liye mampu menarik perhatian pembaca dengan satu kata “menghilang”. Menarik bukan?
Cerita ini menggunakan sudut pandang orang pertama, tokoh utama bernama Raib, gadis berusia 15 tahun. Pemilihan nama ini saja sudah cukup aneh untuk perempuan. Seaneh kemampuan dan karakternya. Jika kebanyakan orang suka menunjukkan kemampuan spesialnya kepada orang lain, berbeda dengan Raib atau yang sering disapa Ra. Ia menyadari memiliki kemampuan yang tak dimiliki orang di sekitarnya sejak berusia 22 bulan, yaitu menghilang. Gadis periang itu memilih untuk menyimpan rapat kemampuannya agar terlihat normal. Bahkan orang tuanya menghadapi segala keanehan Ra sambil lalu. Termasuk kehadiran dua kucing kesayangan Ra, si Putih dan si Hitam, yang tak pernah ada dua ekor menurut orang tuanya.
Adegan tentang kehidupan keluarga dan sekolahnya berjalan dengan sangat natural. Beberapa hal dapat dijadikan teladan bagi para pembaca. Misalnya, adanya komunikasi antar anggota keluarga di dalam rumah dan upaya Papa Ra untuk lebih dekat dengan keluarga kecilnya di tengah kesibukan pekerjaan yang luar biasa padat. Setidaknya, memberikan pelajaran tentang arti interaksi sosial sehingga meminimalisir pembentukan pribadi yang individualme.
Begitu pula kehidupan di sekolah. Raib dan sahabatnya, Seli, seperti kebanyakan remaja pada umumnya. Memiliki guru dan mata pelajaran favorit, yakni Mr. Theo yang mengajarkan bahasa Inggris. Sebaliknya, mata pelajaran matematika yang diampu oleh Miss Selena atau yang biasanya mereka sebut Miss Keriting, seringkali membuat para siswa ketakutan. Kehadiran sosok Ali pada awalnya terlihat antagonis. Dengan karakter yang urakan, sok tahu, pemarah sekaligus jenius. Raib dan Seli memilih menjauh dari Ali untuk menghindari masalah. Sialnya, Ali mengetahui kemampuan Raib saat mereka berdua mendapat hukuman. Ali yang memiliki rasa keingintahuan tinggi terus mendesak Raib untuk mengakui kemampuannya.
Kemampuan Ra mulai terlihat satu per satu semenjak munculnya jerawat di dahi. Beserta munculnya sosok misterius di cermin kamarnya, Tamus. Lelaki itu mengungkapkan sesuatu yang sulit dipercayai, tentang siapa sebenarnya Raib dan asal muasalnya. Berbagai kejadian terjadi, menunjukkan kemampuan Ra yang lebih besar. Dan kemampuan lain dari orang yang tak terduga, Seli dan Ali.
Upaya Tamus mendapatkan Raib berujung pada perkelahian yang hebat. Dengan bantuan Miss Selena, tiga remaja itu berhasil meloloskan diri dari kejaran Tamus dan anak buahnya. Mereka menggunakan satu-satunya petunjuk dari Miss Selena untuk menyelamatkan diri ke dunia lain. Di dunia lain yang sangat aneh itu mereka bertemu dengan tuan rumah, Ilo. Ilo yang baik hati membantu mereka bertiga menemukan jati diri serta melawan ambisi Tamus.
Tamus di bawah bayang-bayang ‘Si Tanpa Mahkota’ berusaha menguasai keempat dimensi bumi yang terdiri dari Klan Bumi, Klan Bulan, Klan Matahari, dan Klan Bintang. Apabila ‘Si Tanpa Mahkota’ dapat berkuasa, maka dipercayai terjadinya perang antar dimensi dan kehancuran peradaban bumi.
Dalam cerita ini, pembaca akan dimanjakan dengan imajinasi liar penulis. Bagaimana menggambarkan keadaan sekitar, situasi dunia lain yang membuat kita melongo, lengkap dengan karakter dunia lain yang hampir mirip alien. Pembaca dituntut untuk turut menggunakan imajinasinya agar dapat menangkap gambaran yang dituliskan oleh Tere Liye. Sebenarnya, cara penyampaian penulis tidak cukup sulit. Ia dapat menggambarkan situasi dengan rangkaian kalimat yang mudah dimengerti.
Terakhir, sebelum membaca novel ini, harap menyediakan waktu cukup luang. Karena selesai membaca satu bab, pembaca akan dibuat penasaran membaca bab selanjutnya, dan seterusnya, dan seterusnya. Apakah Raib, Seli dan Ali berhasil mencegah ambisi Tamus? Baca selengkapnya novel Bumi  dan pastikan membeli buku yang asli untuk menghargai karya penulis.

Salam.

Minggu, 18 Maret 2018

WISATA ALAM JOGJA LANTAI DUA, PANTAI KEBHINEKAAN

Indonesia, never ending destination, begitulah aku menyebutnya. Di setiap sudut Indonesia terdapat destinasi wisata yang menarik. Mulai dari Sabang hingga Merauke terdapat wisata alam, wisata religi, wisata budaya, wisata kuliner dan wisata edukasi. Saya sebagai warga negara Indonesia tak pernah merasa puas untuk menikmati kekayaan luar biasa ini. Entah alasan apa Allah menciptakan Indonesia dengan segala kenikmatan. Jika ingin merasakan indahnya surga dunia, jelajahi Indonesia. Negara yang memiliki 34 provinsi ini disebut juga dengan negara maritim karena dua per tiga bagiannya merupakan wilayah laut.
Aku lahir dan besar di salah satu kabupaten kecil di sisi selatan Jawa Timur, Tulungagung, atau biasa disebut dengan kota marmer. Berpetualang menjadi salah satu dari sekian hobiku. Meskipun telah menjajaki beberapa tempat wisata sejak sekolah menengah, rasa puas itu belum ada. Hingga saya memutuskan untuk mengambil pendidikan tinggi di sebuah kota yang memiliki kelima jenis wisata.
Kota ini memiliki banyak sebutan; kota pelajar, kota budaya, kota gudeg, dan sebutan lain yang mungkin belum aku ketahui. Ya, mana lagi kalau bukan Yogyakarta. Sejak menginjakkan kaki di tanah ini, sudah lumayan banyak tempat yang aku kunjungi. Namun, setelah enam tahun berjalan, baru aku merasa perlu menuliskan perjalananku ini. Apakah terlambat untuk mulai berbagi cerita? Kata orang, tidak ada kata terlambat. Jadi, aku akan mulai bercerita perjalananku hari ini, lengkap dengan biaya yang kukeluarkan agar bisa menjadi referensi pembaca jika nantinya mencoba berkunjung.
Bertepatan pada hari Sabtu, 17 Maret 2018, kalender nasional memberikan tinta merah untuk memperingati Hari Raya Nyepi. Kesempatan ini aku gunakan untuk sedikit menyegarkan otak dari rutinitas harian. Sejak satu minggu yang lalu aku sudah menandai beberapa pantai di Kabupaten Gunung Kidul atau yang biasa disebut dengan ‘Jogja Lantai Dua’, tepatnya di Desa Kanigoro Kecamatan Saptosari.
Aku tidak sendiri, ditemani oleh Mbak dan suaminya, kami berangkat dari Kabupaten Bantul. Perlu waktu kurang lebih dua jam untuk tiba di tempat tujuan. Jika berangkat dari Kota Yogyakarta akan menempuh waktu yang tidak jauh berbeda. Pagi hari cuaca cerah sangat mendukung. Seakan sengaja membuat kami tenggelam dalam kenikmatan suasana. Memasuki Jalan Wonosari, jalanan sedikit demi sedikit menanjak. Sampai bertemulah kami pada jalanan berliku, lalu menyempit dan curam. Bergitulah kira-kira kondisi perjalanan yang harus ditempuh. Belum lagi jika hari libur seperti ini, harus ekstra sabar menghadapi kemacetan. Beruntung kami mengetahui jalan alternatif bebas hambatan, sehingga perjalanan lebih cepat. Di setiap sisi jalan, alam menyuguhkan pemandangan yang menyejukkan mata. Rimbunan pohon dan bentang sawah nan hijau menjadi panorama utama.
Jangan lupa ketika melewati loket harus membayar tiket masuk wisata. Tidak mahal, cukup membayar Rp 5.000,- / orang kami bisa menikmati empat pantai sekaligus. Sangat murah bukan? Tempat pertama yang kami datangi adalah Pantai Ngrenehan. Tiba di tempat itu, kami disuguhi deretan perahu nelayan yang terparkir rapi di atas pasir. Ombaknya cenderung tenang karena diapit oleh dua karang raksasa.

Gambar. Ikon Pantai Kebhinekaan


Gambar. Pantai Ngrenengan - Deretan perahu nelayan

Gambar. Pantai Ngrenehan - Diapit oleh dua karang raksasa

Gambar. Pantai Ngrenehan - Pemandangan 360 derajat

Beberapa orang terlihat berenang bebas tanpa ada pengawasan dari penjaga pantai. Ah, aku tidak sabar untuk segera berbasah ria. Benar saja, air yang tak terlalu banyak bergerak itu memberikan keamanan pada perenang pemula sepertiku. Eits… tapi jangan lengah. Meskipun angin tidak terlalu kencang, aliran air yang terlihat tenang diam-diam bisa menghanyutkan. Terbukti, saat terlalu asyik berenang, tanpa sadar aku telah berada jauh dari bibir pantai. Kakiku bahkan tak bisa menyentuh dasar laut, membuatku sedikit panik. Aku bergegas berenang ke tepi sebelum tenagaku habis untuk bertahan di air. Maklum, perenang amatir dan sangat pemula. Dari kejadian inilah aku bertekad untuk melatih terus kemampuan berenangku agar dapat menyelam melihat terumbu karang suatu saat nanti. Nah, bagi para pemula sepertiku, sebaiknya jaga posisi tak jauh dari bibir pantai atau pastikan selalu dalam pengawasan ahli.
Tak puas hanya dengan berenang. Rayuan para nelayan untuk menaiki perahunya sukses membuat kami luluh. Hanya dengan membayar Rp 25.000,- / orang, kami dapat menaiki perahu nelayan untuk mengelilingi lautan. Awalnya aku sedikit takut karena ini adalah pertama kalinya di atas jutaan liter air laut. Berkat angin yang tidak berhembus terlalu kencang, perahu kecil itu bisa melaju dengan tenang. Meskipun pengemudi menjamin keamanan dan keselamatan, jangan lupa pula memastikan pelampung terpasang kuat di badan untuk berjaga-jaga apabila terjadi hal yang tak diinginkan.

Gambar. Pantai Ngrenehan - Penumpang perahu nelayan

Gambar. Pantai Ngrenehan – Pemandangan dari tengah laut


Gambar 5. Pantai Ngrenehan – Garis batas langit dan air

Angin seakan menghipnotisku, tanpa sadar kami telah berada beberapa kilometer dari bibir pantai. Dari tengah laut kami dapat melihat tiga pantai lain yang telihat tak kalah menarik. Saat itu aku berharap ada burung camar beterbangan di atas kami, lumba-lumba yang meloncat kesana-kemari, atau mungkin ikan yang dapat terlihat dari permukaan. Hahaha… Sayangnya satupun tak dapat kutemukan. Hanya portrait air dan langit biru yang mendominasi pemandangan. Sekitar lima belas menit kemudian, kemudi membalikkan arah dan kami tiba di bibir pantai.
Tanpa terasa waktu berlalu teramat cepat. Memasuki tengah hari, alarm alam berbunyi di perut. Menandakan kami harus istirahat dan mengisi tenaga. Kami sepakat untuk menikmati makan siang di pantai selanjutnya. Sebelum pergi, jangan lupa untuk membayar jasa parkir Rp 5.000,- / mobil.
Sekitar lima menit kemudian kendaraan kami tiba di Pantai Ngobaran. Di pantai ini, angin lebih kencang dan ombak beriak.

Gambar 6. Pantai Ngobaran

Gambar 7. Pantai Ngobaran

Tempat yang tepat untuk kami menikmati santap siang. Kebetulan Mbak memasak makanan yang sangat lezat pagi ini, sengaja membawanya sebagai bekal makan siang, terlepas dari banyaknya makanan yang dijual oleh para pedagang. Hijaunya kelapa muda membuatku tergiur untuk meminumnya, hanya perlu merogoh kocek Rp 10.000,- / buah. Makan siang, es kelapa muda, dan kurang lengkap rasanya jika tidak menyicipi aneka makanan laut yang telah digoreng krispi. Lantas aku membeli ikan balur krispi yang sangat nikmat, gurih dan renyah seharga Rp 15.000,- / 250 gram. Berhubung ikan balur krispi itu ringan, jadi 250 gram sudah cukup banyak untuk dinikmati bertiga. Selesai makan, tak lupa kami menunaikan ibadah shalat Dzuhur karena adzan telah berkumandang. Seasyik apapun berpetualang, jangan lupa bersyukur dan melaksanakan perintah Sang Pencipta alam semesta.
Setelah tubuh mendapatkan tenaganya, kami kembali menikmati nuansa alam. Air yang surut menampakkan aneka tumbuhan dan hewat laut. Ada sensani tersendiri ketika telapak kaki menyentuh karang yang dilapisi oleh alga. Di sini, penjual menawarkan jaring dan ember kecil seharga Rp 10.000,- / set untuk menangkap ikan-ikan kecil. Tak hanya anak kecil, orang dewasa pun turut berlomba mendapatkan ikan. Ikan-ikan kecil ini sangat gesit, membuat orang kuwalahan untuk menangkapnya. Ah, selain ikan ada juga hewan lain seperti bintang laut, bulu babi, dan lain-lain.


Gambar. Pantai Ngobaran – Jaring dan ember

Gambar. Pantai Ngobaran - Berburu ikan

Gambar. Pantai Ngobaran - Bintang laut

Gambar. Pantai Ngobaran – Patung dan Bangunan Hindu

Perjalanan kami berlanjut ke Pantai Nguyahan tak jauh dari Pantai Ngobaran. Cukup berjalan kaki selama sepuluh menit dan sekali lagi pemandangan indah menyambut kami. Pantai ini tak jauh berbeda dengan pantai sebelumnya. Di sini, pengunjung juga dapat berburu ikan dan melihat beberapa biota laut.

Gambar. Pantai Nguyahan

Gambar. Pantai Nguyahan – Pemandangan 360 derajat

Gambar. Pantai Nguyahan – Garis batas langit dan pantai

Kumandang adzan Ashar mengingatkan kami akan waktu yang terlupakan. Tiba saatnya keluar dari air laut dan kembali menghadap Sang Pencipta. Tak lama selesai ibadah shalat Ashar, cahaya mentari semakin tertutup oleh mendung. Kami terpaksa bergegas meninggalkan tempat indah ini. Jika ingin tahu biaya parkir, yakni senilai Rp 10.000,- / mobil.
Tak berselang lama, tetesan air langit mengguyur kami. Beruntung kami telah berada di dalam mobil. Sepanjang perjalanan pulang kami terpaksa menerobos samar-samar jalan yang tertutup air hujan. Kami harus ekstra hati-hati, melewati jalan berliku, curam, dan tentu saja licin. Jika ragu melewati kondisi seperti ini, sebaiknya menepi dan menunggu hujan reda.

Gambar. Penglihatan jalan samar-samar

Demikian cerita perjalanan hari ini. Dalam kondisi dan situasi apapun tak kan membuatku jera untuk melanjutkan petualangan. Semua foto yang dilampirkan merupakan dokumentasi pribadi hasil jepretan fotografer abal-abal hanya dengan menggunakan kamera ponsel. Harap dimaklumi, haha….
Terima kasih telah menyempatkan diri membaca. Sampai jumpa di episode jalan-jalan selanjutnya.


Selasa, 06 Maret 2018

OGEN DAN KARDI



Sumber gambar: wired.com

Mentari malu-malu menyembunyikan cahyanya di balik gunung. Para pasukan Molekul Senyawa bersimbol CO2 dari kerajaan Karbon Dioksida berhenti memasuki tubuh tumbuhan. Begitu pula para Molekul Unsur dari kerajaan Oksigen dengan simbol O2 turut berhenti beranak-pinak. 

Mereka mengikuti titah Sang Pencipta untuk menghentikan rutinitas siang hari yang bernama fotosintesis. Karena kegiatan itu tak bisa terlaksana tanpa bantuan dari panas mentari. Tentu saja, cahaya mentari tak menyorot langsung ke bumi pada malam hari, hanya membias melalui satelit bumi, rembulan.
Saat bertemu malam, rutinitas mereka berubah. Tumbuhan tak lagi menarik Karbon Dioksida untuk memasuki dirinya. Ia merayu para pasukan Oksigen berkencan. Tak mau kalah dengan makhluk hidup lain yang disebut manusia dan hewan. Siapa bilang tumbuhan tak butuh bernafas?
Bernafas itu adalah bahasa manusia. Alam menyebutnya respirasi. Tumbuhan akan melakukannya setelah mentari bersembunyi, malam hari. Dia ingin terlihat angkuh pada mentari, seakan tak butuh bernafas. Padahal rembulan diam-diam berbisik pada mentari.
“Hei, Men. Tumbuhan itu tak sekuat yang kaulihat. Dia hanya pura-pura di depanmu,” ujar Rembulan.
“Dari mana kau tahu, Bul?” tanya Mentari penasaran.
“Aku melihatnya sendiri. Dia merayu manja pada pasukan kerajaan Oksigen.”
“Ahahahah…” Mentari tertawa geli mendengar tingkah Tumbuhan. “Biarlah, asal mereka hidup dalam kebahagiaan, aku tak akan tersinggung.”
Begitulah percakapan Rembulan dan Mentari ketika mengungkap rahasia Tumbuhan.
Kerajaan Oksigen kini terpecah belah. Tak hanya manusia dan hewan yang meminta dilayani. Bahkan Tumbuhan rela merayu dan menunduk untuk memintanya datang. Raja harus berlaku bijaksana. Ia memerintahkan beberapa peleton pasukannya untuk menuruti kebutuhan Tumbuhan. Para pasukan hanya bisa mengiyakan perintah Raja Oksigen.
Suatu malam, ada seorang Anak Manusia yang mencintai sebuah Tumbuhan. Ia tak mau jauh dari Tumbuhan yang sengaja ia tanam di dalam pot besar. Dibawanya Tumbuhan itu ke dalam ruang tidurnya. Tempat itu tertutup, hanya ada sedikit celah bagi pasukan Oksigen dan Karbon Dioksida untuk bergantian masuk. Tentu saja tak banyak yang mendapatkan giliran. Banyak Oksigen yang mengantri untuk masuk. Sementara Karbon Dioksida lamban keluar.
Di dalam ruang enam sisi itu, Anak Manusia terlelap dalam mimpi. Oksigen mulai marah pada Karbon Dioksida karena perlakuan semena-menanya.
“KarDi, Biarkan pasukanku masuk terlebih dahulu. Jika pasukanku habis di dalam sini, Manusia itu akan mati,” pemimpin pasukan Oksigen berusaha bernegosasi dengan pemimpin pasukan Karbon Dioksida.
“Santai sedikitlah, Gen. Coba perhatikan. Sebenarnya jumlah pasukanmu yang masuk sama dengan pasukanku yang keluar,” KarDi melingkarkan lengan pada pundak Ogen untuk menenangkannya.
Ogen mengerutkan dahinya. Setelah dipikir-pikir rivalnya itu memang benar.
KarDi melanjutkan. “Salahkan Manusia itu yang menyediakan saluran udara sekecil itu. Jumlah pasukanmu menjadi sangat terbatas. Aku paham betul maksudmu. Jangan mengira bahwa aku egois.”
Ogen mendengus sebal. “Apalagi ada Tumbuhan hijau itu yang merebut pasukanku. Aku hanya menjalankan perintah Raja. Hei, lihat Manusia itu mulai kesulitan bernafas. Apa yang harus kita lakukan?”
Lanjutkan membaca, klik link di bawah ini!

_____________________________________________________________
Hak cipta © Februari 2018

PESAN DALAM TULIP

Penulis: Razan Fuku


....................
“Selamat ulang tahun. Ini bibit bunga tulip hadiah buat kamu. Bunga ini banyak bermekaran di Belanda. Di Indonesia juga ada katanya, tapi langka. Tulip itu melambangkan perasaan cinta. Nanti kita tanam bersama ya.”
“Kamu ngasih tulip, artinya kamu cinta aku?”
“Gak. Tulipnya yang cinta kamu, bukan aku.”
Aku memasang muka cemberut. Arya tertawa terbahak-bahak puas mengerjaiku. Begitulah Arya, suka merusak suasana romantis yang dia bangun sendiri. Sungguh menyebalkan sekaligus tingkah khasnya yang membuat rindu.
....................
(Baca cerita lengkapnya hanya di buku antologi fiksi mini Kisah dalam Buket)
_________________________


Sumber gambar: koleksi pribadi

Fiksi mini berjudul Pesan dalam Tulip karya Razan Fuku ini telah lolos sebagai Fiksi Mini Terpilih dalam Lomba Cipta Fiksi Mini Nasional 'Kisah dalam Buket' yang diadakan oleh Jejak Publisher pada bulan April-Mei 2017.
Di dalam buku ini juga terdapat 87 fiksi mini lainnya. Berbagai macam bunga dan kisahnya tertuang apik dalam berbagai sudut pandang. Kisah senang dan haru akan melebur dalam emosi pembaca. Antologi fiksi mini Kisah dalam Buket telah terbit pada bulan Agustus 2017. 
Informasi lebih lanjut hubungi author.razanfuku@gmail.com.

________________________

Hak cipta © Agustus 2017

Sabtu, 17 Februari 2018

DARAHKU, DAGINGKU

Penulis : Razan Fuku

........................
Tengah malam dalam kesendirian aku menembus sunyi dan kegelapan hutan Ngawi. Ditemani bayang-bayang kenangan dan keinginan menggelora untuk bertemu buah hatiku.
Sayang sekali aku terlambat. Aku berhenti sebentar di Alun-alun Temanggung untuk menunaikan ibadah shalat id. Lalu aku melanjutkan perjalanan. Dua jam kemudian aku sampai di depan rumah.
Depan rumah dipenuhi orang-orang yang datang dan pergi. Kursi-kursi terjejer rapi, lengkap dengan terop di atasnya. Aku memarkirkan mobil dengan rapi di kejauhan. Kulihat mereka bersalam-salaman. Beberapa lelaki bergantian memeluk Bapak Mertua. Aku berjalan mendekat. Para wanita duduk di dalam rumah.


“Ada apa ini?” Aku bertanya bingung. Bapak merangkulku erat. “Pak? Ada apa, Pak?”
...........................
(Baca cerita lengkapnya hanya di buku antologi cerita pendek Lailan)
_____________________________________________

Sumber gambar: koleksi pribadi

Cerita pendek ini menjadi salah satu dari 25 cerita pendek terpilih dalam kegiatan Nulis Bareng yang diadakan oleh Yesi Astria pada Mei-Juni 2017.
Cerita lengkap dapat dibaca di buku antologi cerita pendek berjudul 'Lailan' yang telah terbit pada bulan Juli 2017. Buku terbitan Pena Biru Publishing ini berisi karya Razan Fuku, Yesi Astria dan 23 penulis lainnya.
Info lebih lanjut silahkan kontak email author.razanfuku@gmail.com.

__________________________

Hak cipta © Juli 2017

Selasa, 09 Januari 2018

MUDA BEBAS, KATANYA

Penulis: Razan Fuku


Meja, kursi tercecer
Layaknya kacang dalam keranjang
Berserakan kotor
Tinta hitam, putih
Tercoret berani di permukaannya
Seni, kata mereka

Terukir nama hewan
Terlukis organ tubuh
Tergambar ornamen abstrak
Tersirat kata mutiara, busuk...
Ekspresi, kata mereka

Sekotak lorong kecil dalam meja
Bak sarang bagi sang penghisap darah
Berkembang biak
Bersembunyi dalam gelap
Berdesakan dengan plastik dan kertas lusuh
Bau, kotor, penyakit
Bebas, telah bayar, kata mereka

Jika coretan itu imajinasi
Jika kebebasan itu ego
Mereka yang merusak adalah sampah negara
Bibit buruk revolusi

Sumber gambar: http://static1.businessinsider.com

Resensi Film : SERENDIPITY

Judul           : Serendipity Rilis            : 9 Agustus 2018 Genre         : Drama/Romance Sutradara   : Indra Gunawan Negar...