Tampilkan postingan dengan label fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fiksi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 03 Januari 2020

Resensi Film : HIDARIKIKI NO EREN

Sumber: asianwiki.com


Judul           : Hidarikiki no Eren (Eren si Kidal)
Rilis            : 2019 - 2020
Genre         : Drama
Produser     : Yuko Goto
Penulis       Kappy (webcomic), Nonji Nemoto
Network      : TBS, MBS
Negara       : Jepang



Hidarikiki no Eren merupakan drama Jepang yang diadaptasi dari serial komik yang berjudul sama. Drama 10 episode ini memiliki tema dan alur cerita yang cukup unik. Sebelum menonton saya peringatkan untuk fokus, karena memiliki alur maju-mundur yang lumayan cepat.

Berkisah tentang dunia seni. Seniman dibagi menjadi 2 kategori: berbakat dan berusaha belajar. Dua kategori ini diwakili oleh 2 tokoh utama, bernama Eren Yamagishi (Elaiza Ikeda) dan Koichi Asakura (Fuju Kamio). Cerita ini berada pada sudut pandang Koichi Asakura, seorang desainer grafis sebuah perusahaan iklan ternama di Jepang. Sebagai pegawai junior, ia bekerja sangat keras mengeluarkan seluruh kemampuan dan tenaganya dalam setiap proyek yang diberikan. Ia mulai stres dan hampir frustasi ketika semua usaha kerasnya yang telah mendapatkan goal dari klien justru tidak mendapatkan apresiasi dari jajaran direksi. Direksi memiliki sudut pandang tersendiri dengan memikirkan berbagai aspek, salah satunya adalah marketing. Ego Koichi mulai membakar emosinya. Hingga seorang senior sekaligus mentornya Yusuke Kamiya (Huwie Ishizaki) dan rekan kerjanya sebagai copy writer Yurina Mitsuhashi (Yui Imaizumi) membuka matanya. Pikiran Koichi kembali pada masa SMA dimana ia bertemu dengan seorang seniman yang sangat ia kagumi, seseorang yang membuatnya mampu melangkah sejauh ini, Eren Yamagishi.

Eren memiliki bakat seni lukis semenjak kecil. Bakat tersebut diturunkan dari ayahnya yang juga merupakan seorang pelukis. Saat kecil Eren sangat gila melukis, tenggelam dalam dunianya sendiri. Hingga sebelum mendengar berita ayahnya meninggal bunuh diri, dia tetap terpaku pada kesibukannya. Semenjak kematian ayahnya, ia pun mengalami trauma berat dan berhenti melukis.

Seni telah menghubungkan Eren dan Koichi dengan cara yang unik. Eren membenci semua karya Koichi yang menurutnya sangat payah. Ia memandang Koichi sebagai seorang seniman yang tidak berbakat. Gadis itu terus menatap Koichi dengan penuh kebencian, merusak apapun karya Koichi. Tanpa menolak semua tindakan Eren, Koichi justru merasa semakin kagum dan termotivasi untuk terus membuat karya yang lebih baik. Sahabat Koichi, Sayuri Kato (Yurika Nakamura) yang memiliki perasaan lebih terhadap Koichi selalu berada di samping lelaki itu untuk memberikan dukungan. Sayangnya, Koichi terlalu terobsesi untuk mendapat pengakuan Eren, tidak memikirkan perasaan Sayuri.

Di lain waktu, ketika Koichi sedang mengatur sebuah pemotretan, kedatangan seorang model cantik membuat dunia Koichi berhenti sejenak. Akari Kishi (Arisa Yagi), model papan atas yang percaya bahwa ia akan meninggal pada usia 27 tahun. Tak hanya Koichi, Eren pun turut terpaku ketika Akari mulai menggerakkan tubuhnya di depan kamera. Saat itu pula, Eren memutuskan... "Aku akan melukismu". Waktu berjalan dengan cepat, secepat  Akari meluluhkan hati Koichi. Dan, secepat runtuhnya obsesi Eren untuk melukis Akari. Ia memilih untuk pergi dan menghilang dari kehidupan dua orang tersebut.

Semua kembali pada kehidupan masing-masing. Koichi sebagai desainer grafis, Eren merintis karir di New York bersama Sayuri, dan Akari yang terus mengejar ambisinya sebelum meninggal beberapa tahun lagi. Karir Koichi semakin melejit berkat kerja keras dan kemampuannya belajar. Sedangkan Eren, dunianya terhenti.

Beberapa tahun berlalu, berbagai situasi yang terjadi mengarah pada suatu titik yang mempertemukan mereka kembali. Apakah kali ini Koichi bisa membuktikan perjuangannya terhadap para seniman berbakat?

Biasanya saya tidak terlalu suka film live action yang diadaptasi dari komik. Komik memiliki ciri khas hiperbola. Sedangkan film live action merupakan bentuk realita kehidupan. Ketika keduanya digabungkan, saya merasa sulit untuk merasakan adanya kecocokan. Selain itu, umumnya hasil akhir film live action tidak sesuai dengan ekspektasi pembaca komik.

Beruntung saya belum pernah membaca versi komiknya. Terlepas dari itu semua, saya sangat menyukai garis besar film ini. Menunjukkan pada kita wawasan tentang berbagai macam seni; lukis, grafis, modelling, dan fotografi. Seni tidak akan memiliki nilai komersil tanpa ada aspek lain, yakni; marketing, managemen, dll. Jadi, mana yang akan mencapai kesuksesan tertinggi, orang berbakat atau orang yang berusaha untuk belajar?

"Untuk semua orang yang tidak bisa menjadi jenius."

Minggu, 23 September 2018

Resensi Film Indonesia : DILEMA


Judul                   : Dilema
Rilis                    : 2012
Produser             : Wulan Guritno, Adilla Dimitri
Sutradara            : Robert Ronny, Robby Ertanto Soediskam, Adilla Dimitri
Penulis                : RAW / ART
Produksi             : WGE Picture

Industri perfilman di Indonesia sedang naik daun beberapa tahun terakhir. Tentu saja dalam dunia dagang ada berbagai macam kualitas produk. Salah satu film favorit saya adalah Dilema yang telah rilis enam tahun silam. Dilema tidak hanya sebagai judul, tapi juga tema cerita dari 5 subcerita di dalamnya. Film ini menceritakan tentang Jakarta dari beberapa sudut pandang dan memiliki ending yang sangat tak terduga. Dikemas secara apik di bawah produser Wulan Guritno dan Adilla Dimitri. Beberapa aktor dan aktris terbaik Indonesia turut serta menambah kekuatan dan daya tarik.
Berikut akan saya ulas satu per satu subcerita:
1    
  1. Rendezvous

     Menceritakan seorang gadis kaya raya bernama Dian (Pevita Pearce) yang mengasingkan diri di Bali. Ia kabur menyembunyikan diri dari jangkauan ayahnya setelah kematian ibunda tercinta. Di tengah kesendiriannya di tepi pantai, beberapa orang mengajaknya untuk ikut berpesta ria. Awalnya saya kira dia gadis baik-baik karena menolak ‘pesta’. Namun, bujukan seorang Rima (Wulan Guritno) melemahkannya. Wanita tomboy itu mampu membuat Dian nyaman menceritakan kesedihannya. Tidak hanya sekadar kenyamanan yang diberikan Rima, dia dengan mudah membujuk Dian melanggar prinsipnya, meminum pil untuk ‘bersenang-senang’.
       Raymond sang pemilik pesta puas dengan kinerja Rima yang mampu memeras kantong Dian, seperti para penikmat pesta yang lain. Uang tak pernah menjadi masalah bagi gadis cantik itu. Hingga akhirnya, nyawa Raymond dan Rima terancam setelah mengetahui siapa sebenarnya Dian. Apa yang akan terjadi?
         Di sini saya sangat kagum dengan peran Wulan Gurtino, sangat jauh dengan karakter aslinya yang cenderung seksi dan feminin. Sepertinya ia sengaja menaikkan berat badannya beberapa kilo dan memangkas pendek rambutnya demi totalitas. Mungkin juga itu hanyalah trik wardrobe dan make up, cek saja jika penasaran.

       2.  Garis Keras


         Terdapat suatu kelompok Islam radikal di jakarta. Penggeraknya bernama Said (Winky Wirawan) dan Ibnu (Baim Wong). Mereka berdua memimpin pengikutnya untuk melakukan demo di sebuah masjid besar yang  diduga memiliki kepercayaan adanya nabi setelah Muhammad SAW.
        Ibnu menyadari bahwa kelompoknya menggunakan cara yang salah. Said dan Ibnu berseteru karena adanya perbedaan pendapat. Ibnu memilih keluar dari kelompok tersebut. Kini Said terpaksa memimpin seorang diri. Seorang bodyguard (Verdi Solaiman) datang ke rumah Said menyampaikan pesan dari atasan yang disebut 'Bapak'. 'Bapak' meminta Said untuk meledakkan masjid besar di depan rumahnya. Pria itu memaksa Said melakukan pengeboman besok subuh, jika tidak ia akan membunuh anak semata wayang Said.
          Melalui cerita ini saya menduga, bahwa kemungkinan terjadinya kerusuhan di tanah air kita karena adanya ‘Dalang’ yang membayar atau mengancam provokator. Tujuannya banyak hal, seperti; pengalihan isu, adu domba, menghancurkan citra suatu kelompok, mengambil kesempatan dalam kesempitan, dan banyak hal lain yang secara keseluruhan berujung pada kekuasaan. Tugas kita adalah berpikir secara rasional, tidak mudah terpengaruh, dan tetap berada di jalan-Nya. InsyaAllah Dia akan memberikan petunjuk.
          Akankah Said membunuh orang-orang yang tengah menjalankan ibadah?

      3. The Officer

     Brigadir Aryo Sustoyo (Ario Bayu), seorang polisi yang baru naik pangkat dan dipindahtugaskan dari Sumatera Utara. Ia melaksanakan tugas pertamanya di Jakarta bersama seorang Inspektur senior bernama Bowo Wicaksono (Tio Pakusadewo). Aryo berusaha pendekatan dengan atasan barunya. Sayangnya, usaha Aryo tak mendapat respon baik dari Bowo.
       Tempat yang mereka datangi pertama kali adalah aksi demo kelompok Islam di sebuah masjid besar bersama polisi-polisi lain. Kerusuhan terjadi antara para pendemo dan aparat kepolisian. Selanjutnya, mereka mendapat tugas untuk meringkus suatu tempat perjudian. Bowo meminta Aryo menunggu di luar. Sementara ia dan timnya menyerbu masuk tempat itu. Tanpa memerlukan waktu lama, semua orang di dalam tempat itu berhasil diringkus.
          Aryo yang tak sabar menunggu sendiri di luar masuk ke dalam. Ia melihat seseorang di antara para penjudi adalah orang yang ia kenal, ayahnya. Tak ada yang bisa ia lakukan selain melihat ayahnya dibawa polisi beserta para penjudi lain.
        Cerita ini menunjukkan realita oknum polisi yang melakukan kong-kalikong dengan mafia demi uang. Juga adanya penyalahgunaan jabatan untuk memanipulasi hukum. Namun, jika dilihat dari sisi kemanusiaan, oknum polisi tersebut melakukan pelanggaran karena ada faktor di belakangnya. Yakni, butuhnya dana yang sangat besar demi operasi putrinya. Pun semua tindakan pasti memiliki alasan. Jadi, salah dan benar menjadi abu-abu. Lantas, akankah Aryo memenjarakan ayahnya?

      4. The Gambler

        Sigit (Slamet Raharjo) , pria tua yang telah lama pensiun dari dunia perjudian kembali menapaki tempat kotor itu. Ia bertekad mengambil jam emas warisan bapaknya yang terpajang rapi di tengah ruang. Jam yang dulu pernah menjadi taruhan di detik-detik terakhir kekalahannya. Andri (Lukman Sardi) menganjurkannya untuk tak kembali berjudi. Ia menjelaskan pada Andri bahwa jam emas itu akan ia gunakan sebagai hadiah pernikahan putra yang sangat ia banggakan.
        Judi dimulai. Satu per satu permainan dapat ia menangkan. Kedatangan Sigit menarik perhatian sang pemilik tempat judi, Gilang (Ray Sahetapi), sekaligus musuh bebuyutan Sigit. Gilang turut bergabung, permainan sengit antara dia dan beberapa penjudi lain terjadi. Namun, berujung pada kekalahan dan menghabiskan uang yang ia miliki sebelum berhasil mendapatkan jam emas itu.
      Seorang rentenir menawari pinjaman dengan bunga yang sangat besar. Sigit mengambilnya dengan segala resiko yang akan terjadi apabila ia kalah. Permainan kembali dilanjutkan. Semakin sengit dari waktu ke waktu. Akankah Sigit berhasil mengembalikan uang kepada rentenir? Begitu pula dengan jam emas yang ia incar?
           Kisah Sigit dan judi mengajarkan kita bahwa segala hal yang dimulai dengan salah akan berakhir dengan buruk. Ambisi tak berujung dapat menjadi boomerang yang mematikan.

       5.  Big Boss

         Seorang artisek muda dan sukses bernama Adrian (Reza Rahardian) kedatangan tamu wanita tua dengan dua bodyguard di kantornya. Setelah berbasa-basi sebentar, wanita itu menyampaikan maksudnya untuk mengundang Adrian ke rumah seseorang yang disebut 'Bapak'. Sebelum pergi wanitu menyebutkan namanya, Hetty (Jajang C. Noer).
          Teman Adrian, Barry (Abimana Aryaseta) menyadari siapa wanita itu setelah melihat kartu nama yang tergeletak di atas meja Adrian. Wanita itu adalah tangan kanan SW, mafia terbesar yang kuat di Jakarta. Ia mengingatkan Adrian untuk berhati-hati.
       Adrian memutuskan untuk menghadiri undangan tersebut. Hetty menjelaskan keadaan ayah kandung Adrian yang sedang menanti untuk bertemu. Di dalam sebuah kamar, Sony Wibisono (Roy Martin) tengah terbujur lemah di atas ranjang.
     Sony menjelaskan statusnya sebagai ayah kandung yang sengaja memantau perkembangan Adrian dari jauh, serta memastikan jalan mulus pendidikan dan karir Adrian dengan segala cara. Adrian tak terima begitu saja. Orang tuanya meninggal dalam sebuah kecelakaan saat ia berusia tujuh tahun. Membuatnya harus hidup dan besar di panti asuhan. Sony menjelaskan dengan segala cara agar Adrian mau mengerti. Karena anak sulungnya itu yang nanti akan meneruskan bisnis SW.
       Adrian merasa muak dengan kelakuan kotor Sony yang kemungkinan sengaja membuat ibunya meninggal dalam kecelakaan. Ia berusaha membunuh Sony jika saja tak dicegah oleh Hetty. Adrian mengancam akan melaporkan Sony ke polisi, ia membawa laptop pribadi Sony dan membawanya pergi. Apakah rahasia besar SW akan terbongkar?

Film ini sangat patut diapresiasi. Mulai dari ide cerita, nilai yang tersirat di dalamnya, proses penggarapan, serta totalitas pemain dalam membawakan karakter. Semuanya tergabung dalam satu kesatuan yang selaras dan saling melengkapi. Sengaja tidak saya ceritakan ending-nya, no spoiler. Jika penasaran, silahkan tonton sendiri ya. Selamat menikmati…


Minggu, 09 September 2018

Resensi Novel: BULAN karya TERE LIYE


Judul                      : Bulan
Pengarang              : Tere Liye
Penerbit                 : PT. Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit          : 2015
Tebal                     : 400 halaman

Novel berjudul Bulan ini merupakan buku kedua dari serial novel Bumi. Memang tidak ada yang menarik dari sinopsisnya. Pembaca akan otomatis membaca buku ini setelah selesai membaca buku pertama, Bumi.
Masih menceritakan tentang petualangan Raib, Seli dan Ali di dimensi lain. Cerita berawal di bumi, sama seperti buku pertama. Bedanya, kali ini mereka lebih siap dengan segala hal yang akan terjadi. Bukan lagi dunia Klan Bulan tujuan mereka, tetapi dunia Klan Matahari, tanah leluhur Seli. Bersama dengan 3 orang lainnya, yakni Miss Selena, Av, dan Ily. Av, sang Penjaga Perpustakaan Klan Bulan memimpin rombongan ke dunia Klan Matahari untuk mencari sekutu melawan Si Tanpa Mahkota.
Kedatangan mereka mendapatkan sambutan yang sangat meriah dari klan matahari, sungguh sesuatu yang tak terduga. Di balik itu semua, ternyata sang Ketua Konsil Klan Matahari bernama Fala-tara-tana IV telah menyiapkan rencana lain. Ia meminta empat orang Klan Bulan mengikuti kompetisi mencari bunga matahari yang pertama kali mekar sebagai kontingen ke sepuluh. Mau tak mau Raib, Seli, Ali dan Ily mengikuti kompetisi yang tak mereka pahami itu atau negosiasi dibatalkan. Tentu saja, mereka tidak mau kunjungan ke dunia Klan Matahari ini sia-sia. Dengan persiapan yang cukup singkat mereka nekad terjun dalam kompetisi mengendarai harimau putih yang berasal dari dunia Klan Bulan.
Rintangan demi rintangan mereka hadapi. Menurut keterangan dari seseorang yang mereka temui, kompetisi ini tidak hanya sekadar rangkaian festival biasa. Semua peserta rela melakukan segala cara, termasuk melukai lawan untuk terus melaju. Mereka beruntung memiliki Ily di dalam kelompoknya karena lelaki itu merupakan lulusan akademi yang sangat terlatih dan cerdas. Dalam setiap rintangan kekuatan mereka terlihat semakin kuat. Seluruh energi dan pikiran mereka sangat terkuras dalam menghadapi segala rintangan. Di tengah keputusasaan, mereka masih mengutamakan nilai-nilai moral kemanusiaan. Berlawanan dengan cara pada umumnya yang menghalalkan segala cara.
Rintangan seperti serbuan gerombolan gorilla, serangan burung kenari pemakan daging, guyuran air bah, terjebak di tengah letupan jamur beracun, melewati lorong tikus, dan terakhir melawan musuh yang sangat hebat, secara tidak langsung memancing para pembaca untuk turut berpikir mencari cara melewatinya. Layaknya bermain catur. Masing-masing pion (tokoh) memiliki kekuatan dan kebiasaan yang berbeda. Kekuatan apa yang tepat digunakan? Dalam keadaan terdesak, siapa penolong yang akan muncul? Selalu menjadi tanda tanya. Dan bagian asyiknya, akan ada kekuatan-kekuatan baru yang muncul tanpa mereka sadari sebelumnya.
Para pecinta fantasi, misteri dan petualangan pasti akan merasa dimanjakan oleh cerita ini. Sayangnya, masih ada beberapa kelemahan. Pertama, ada sedikit typo yang kurang enak dipandang. Kedua, peralihan bahasa antar klan yang sedikit kurang teliti. Di buku pertama dijelaskan bahwa Raib secara otomatis dapat berkomunikasi menggunakan bahasa Klan Bulan karena ia berasal dari sana. Sama seperti Seli yang langsung memahami bahasa Klan Matahari. Sekarang kita fokuskan pada 6 tokoh utama; Raib, Seli, Ali, Ily, Av, dan Miss Selena. Raib, Seli, Ali dan Miss Selena dapat berbicara menggunakan bahasa Klan Bumi. Semua dapat menggunakan bahasa Klan Bulan, kecuali Seli. Sebaliknya, hanya Seli yang mampu menggunakan bahasa Klan Matahari. Jadi Ily dan Av tidak dapat berkomunikasi dengan Seli tanpa translator. Namun, ada sesi ketika Ily dan Seli hanya berdua sedang mengobrol. Bagaimana bisa? Ketiga, sedikit bisa ditebak. Buku satu dan dua berawal di dunia Klan Bumi, tetapi latar utama di dunia lain. Buku pertama berjudul Bumi, latar utama di dunia Klan Bulan. Buku kedua berjudul Bulan, latar utama di dunia Matahari. Buku ketiga berjudul Matahari, dan saya tebak latar utama akan berada di dunia Klan Bintang. Benarkah?
Apakah pendapat saya ini salah atau benar? Coba buktikan saja dengan membaca novel Bulan. Dijamin seru dan ketagihan terus membaca. Sampai sekarang saya ingin lanjut terus membaca buku ketiga yang berjudul Matahari. Kalau kamu penasaran seperti apa sih pendapat saya tentang buku pertama Bumi, baca di sini.
Terakhir, himbauan dari saya. Jangan membaca buku ini dalam keadaan sibuk atau terputus-putus. Akan mengurangi esensi cerita dan keseruannya. Apakah Raib dan kawan-kawan mampu menyelamatkan diri dari kejinya kompetisi ini? Pastikan kamu membaca buku yang orisinil untuk menghargai karya penulis.

Salam.

Jumat, 24 Agustus 2018

Resensi Novel : BUMI karya TERE LIYE


Judul                  : Bumi
Pengarang           : Tere Liye
Penerbit              : PT. Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit       : 2014
Tebal                  : 440 halaman

Siapa yang tak kenal dengan penulis kondang, Tere Liye. Hampir semua novel karyanya laris di pasaran. Tak hanya genre romansa. Tere Liye membuktikan diri mampu membius pembaca dengan genre lainnya, seperti: keluarga, religi, politik, juga fantasi.
Kali ini saya akan membahas sekuel pertama kisah fantasi berjudul Bumi. Sebelum membaca sinopsis, saya menduga-duga. Apakah buku ini membahas tentang asal muasal terbentuknya salah satu planet di tata surya, tempat tinggal kita, bumi? Atau membahas segala hal mengenai bumi? Bukankah terlalu banyak kisah yang menceritakan kehidupan bumi? Oke, saya lanjutkan membaca sinopsis.
Di situlah saya baru memahami bahwa novel ini bergenre fantasi setelah membaca kalimat, “Dan aku bisa menghilang.” Secara realita, manusia bisa menghilang dalam artian harfiah, merupakan sesuatu yang amat mustahil. Melalui sinopsis, Tere Liye mampu menarik perhatian pembaca dengan satu kata “menghilang”. Menarik bukan?
Cerita ini menggunakan sudut pandang orang pertama, tokoh utama bernama Raib, gadis berusia 15 tahun. Pemilihan nama ini saja sudah cukup aneh untuk perempuan. Seaneh kemampuan dan karakternya. Jika kebanyakan orang suka menunjukkan kemampuan spesialnya kepada orang lain, berbeda dengan Raib atau yang sering disapa Ra. Ia menyadari memiliki kemampuan yang tak dimiliki orang di sekitarnya sejak berusia 22 bulan, yaitu menghilang. Gadis periang itu memilih untuk menyimpan rapat kemampuannya agar terlihat normal. Bahkan orang tuanya menghadapi segala keanehan Ra sambil lalu. Termasuk kehadiran dua kucing kesayangan Ra, si Putih dan si Hitam, yang tak pernah ada dua ekor menurut orang tuanya.
Adegan tentang kehidupan keluarga dan sekolahnya berjalan dengan sangat natural. Beberapa hal dapat dijadikan teladan bagi para pembaca. Misalnya, adanya komunikasi antar anggota keluarga di dalam rumah dan upaya Papa Ra untuk lebih dekat dengan keluarga kecilnya di tengah kesibukan pekerjaan yang luar biasa padat. Setidaknya, memberikan pelajaran tentang arti interaksi sosial sehingga meminimalisir pembentukan pribadi yang individualme.
Begitu pula kehidupan di sekolah. Raib dan sahabatnya, Seli, seperti kebanyakan remaja pada umumnya. Memiliki guru dan mata pelajaran favorit, yakni Mr. Theo yang mengajarkan bahasa Inggris. Sebaliknya, mata pelajaran matematika yang diampu oleh Miss Selena atau yang biasanya mereka sebut Miss Keriting, seringkali membuat para siswa ketakutan. Kehadiran sosok Ali pada awalnya terlihat antagonis. Dengan karakter yang urakan, sok tahu, pemarah sekaligus jenius. Raib dan Seli memilih menjauh dari Ali untuk menghindari masalah. Sialnya, Ali mengetahui kemampuan Raib saat mereka berdua mendapat hukuman. Ali yang memiliki rasa keingintahuan tinggi terus mendesak Raib untuk mengakui kemampuannya.
Kemampuan Ra mulai terlihat satu per satu semenjak munculnya jerawat di dahi. Beserta munculnya sosok misterius di cermin kamarnya, Tamus. Lelaki itu mengungkapkan sesuatu yang sulit dipercayai, tentang siapa sebenarnya Raib dan asal muasalnya. Berbagai kejadian terjadi, menunjukkan kemampuan Ra yang lebih besar. Dan kemampuan lain dari orang yang tak terduga, Seli dan Ali.
Upaya Tamus mendapatkan Raib berujung pada perkelahian yang hebat. Dengan bantuan Miss Selena, tiga remaja itu berhasil meloloskan diri dari kejaran Tamus dan anak buahnya. Mereka menggunakan satu-satunya petunjuk dari Miss Selena untuk menyelamatkan diri ke dunia lain. Di dunia lain yang sangat aneh itu mereka bertemu dengan tuan rumah, Ilo. Ilo yang baik hati membantu mereka bertiga menemukan jati diri serta melawan ambisi Tamus.
Tamus di bawah bayang-bayang ‘Si Tanpa Mahkota’ berusaha menguasai keempat dimensi bumi yang terdiri dari Klan Bumi, Klan Bulan, Klan Matahari, dan Klan Bintang. Apabila ‘Si Tanpa Mahkota’ dapat berkuasa, maka dipercayai terjadinya perang antar dimensi dan kehancuran peradaban bumi.
Dalam cerita ini, pembaca akan dimanjakan dengan imajinasi liar penulis. Bagaimana menggambarkan keadaan sekitar, situasi dunia lain yang membuat kita melongo, lengkap dengan karakter dunia lain yang hampir mirip alien. Pembaca dituntut untuk turut menggunakan imajinasinya agar dapat menangkap gambaran yang dituliskan oleh Tere Liye. Sebenarnya, cara penyampaian penulis tidak cukup sulit. Ia dapat menggambarkan situasi dengan rangkaian kalimat yang mudah dimengerti.
Terakhir, sebelum membaca novel ini, harap menyediakan waktu cukup luang. Karena selesai membaca satu bab, pembaca akan dibuat penasaran membaca bab selanjutnya, dan seterusnya, dan seterusnya. Apakah Raib, Seli dan Ali berhasil mencegah ambisi Tamus? Baca selengkapnya novel Bumi  dan pastikan membeli buku yang asli untuk menghargai karya penulis.

Salam.

Selasa, 06 Maret 2018

OGEN DAN KARDI



Sumber gambar: wired.com

Mentari malu-malu menyembunyikan cahyanya di balik gunung. Para pasukan Molekul Senyawa bersimbol CO2 dari kerajaan Karbon Dioksida berhenti memasuki tubuh tumbuhan. Begitu pula para Molekul Unsur dari kerajaan Oksigen dengan simbol O2 turut berhenti beranak-pinak. 

Mereka mengikuti titah Sang Pencipta untuk menghentikan rutinitas siang hari yang bernama fotosintesis. Karena kegiatan itu tak bisa terlaksana tanpa bantuan dari panas mentari. Tentu saja, cahaya mentari tak menyorot langsung ke bumi pada malam hari, hanya membias melalui satelit bumi, rembulan.
Saat bertemu malam, rutinitas mereka berubah. Tumbuhan tak lagi menarik Karbon Dioksida untuk memasuki dirinya. Ia merayu para pasukan Oksigen berkencan. Tak mau kalah dengan makhluk hidup lain yang disebut manusia dan hewan. Siapa bilang tumbuhan tak butuh bernafas?
Bernafas itu adalah bahasa manusia. Alam menyebutnya respirasi. Tumbuhan akan melakukannya setelah mentari bersembunyi, malam hari. Dia ingin terlihat angkuh pada mentari, seakan tak butuh bernafas. Padahal rembulan diam-diam berbisik pada mentari.
“Hei, Men. Tumbuhan itu tak sekuat yang kaulihat. Dia hanya pura-pura di depanmu,” ujar Rembulan.
“Dari mana kau tahu, Bul?” tanya Mentari penasaran.
“Aku melihatnya sendiri. Dia merayu manja pada pasukan kerajaan Oksigen.”
“Ahahahah…” Mentari tertawa geli mendengar tingkah Tumbuhan. “Biarlah, asal mereka hidup dalam kebahagiaan, aku tak akan tersinggung.”
Begitulah percakapan Rembulan dan Mentari ketika mengungkap rahasia Tumbuhan.
Kerajaan Oksigen kini terpecah belah. Tak hanya manusia dan hewan yang meminta dilayani. Bahkan Tumbuhan rela merayu dan menunduk untuk memintanya datang. Raja harus berlaku bijaksana. Ia memerintahkan beberapa peleton pasukannya untuk menuruti kebutuhan Tumbuhan. Para pasukan hanya bisa mengiyakan perintah Raja Oksigen.
Suatu malam, ada seorang Anak Manusia yang mencintai sebuah Tumbuhan. Ia tak mau jauh dari Tumbuhan yang sengaja ia tanam di dalam pot besar. Dibawanya Tumbuhan itu ke dalam ruang tidurnya. Tempat itu tertutup, hanya ada sedikit celah bagi pasukan Oksigen dan Karbon Dioksida untuk bergantian masuk. Tentu saja tak banyak yang mendapatkan giliran. Banyak Oksigen yang mengantri untuk masuk. Sementara Karbon Dioksida lamban keluar.
Di dalam ruang enam sisi itu, Anak Manusia terlelap dalam mimpi. Oksigen mulai marah pada Karbon Dioksida karena perlakuan semena-menanya.
“KarDi, Biarkan pasukanku masuk terlebih dahulu. Jika pasukanku habis di dalam sini, Manusia itu akan mati,” pemimpin pasukan Oksigen berusaha bernegosasi dengan pemimpin pasukan Karbon Dioksida.
“Santai sedikitlah, Gen. Coba perhatikan. Sebenarnya jumlah pasukanmu yang masuk sama dengan pasukanku yang keluar,” KarDi melingkarkan lengan pada pundak Ogen untuk menenangkannya.
Ogen mengerutkan dahinya. Setelah dipikir-pikir rivalnya itu memang benar.
KarDi melanjutkan. “Salahkan Manusia itu yang menyediakan saluran udara sekecil itu. Jumlah pasukanmu menjadi sangat terbatas. Aku paham betul maksudmu. Jangan mengira bahwa aku egois.”
Ogen mendengus sebal. “Apalagi ada Tumbuhan hijau itu yang merebut pasukanku. Aku hanya menjalankan perintah Raja. Hei, lihat Manusia itu mulai kesulitan bernafas. Apa yang harus kita lakukan?”
Lanjutkan membaca, klik link di bawah ini!

_____________________________________________________________
Hak cipta © Februari 2018

PESAN DALAM TULIP

Penulis: Razan Fuku


....................
“Selamat ulang tahun. Ini bibit bunga tulip hadiah buat kamu. Bunga ini banyak bermekaran di Belanda. Di Indonesia juga ada katanya, tapi langka. Tulip itu melambangkan perasaan cinta. Nanti kita tanam bersama ya.”
“Kamu ngasih tulip, artinya kamu cinta aku?”
“Gak. Tulipnya yang cinta kamu, bukan aku.”
Aku memasang muka cemberut. Arya tertawa terbahak-bahak puas mengerjaiku. Begitulah Arya, suka merusak suasana romantis yang dia bangun sendiri. Sungguh menyebalkan sekaligus tingkah khasnya yang membuat rindu.
....................
(Baca cerita lengkapnya hanya di buku antologi fiksi mini Kisah dalam Buket)
_________________________


Sumber gambar: koleksi pribadi

Fiksi mini berjudul Pesan dalam Tulip karya Razan Fuku ini telah lolos sebagai Fiksi Mini Terpilih dalam Lomba Cipta Fiksi Mini Nasional 'Kisah dalam Buket' yang diadakan oleh Jejak Publisher pada bulan April-Mei 2017.
Di dalam buku ini juga terdapat 87 fiksi mini lainnya. Berbagai macam bunga dan kisahnya tertuang apik dalam berbagai sudut pandang. Kisah senang dan haru akan melebur dalam emosi pembaca. Antologi fiksi mini Kisah dalam Buket telah terbit pada bulan Agustus 2017. 
Informasi lebih lanjut hubungi author.razanfuku@gmail.com.

________________________

Hak cipta © Agustus 2017

Sabtu, 11 November 2017

PPT (PARA PEMBURU TAKJIL)

Penulis : Razan Fuku


Malam telah tiba. Terdengar suara seorang lelaki dari speaker masjid. Ia memulainya dengan salam. Lelaki itu memberikan beberapa pengumuman penting. Aku dan kedua temanku mendengarkannya dengan seksama. Selesai memberikan pengumuman, ia menutupnya dengan salam. Lalu berkumandanglah adzan Isya’. Kami bertiga bergegas mengambil air wudhu.
Yayyyy…
Yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Aku sudah tidak sabar menemuinya. Begitu pula dengan kedua kawan senasib-seperjuanganku. Bayangkan, kami cuma bisa menemuinya sekali dalam setahun. Bagaimana bisa kami tidak rindu. Ini tahun kedua kami menemuinya bersama-bersama.
Keadaan memaksa kami untuk hidup mandiri, jauh dari keluarga. Untuk itu, perlu rencana yang matang agar kami bisa survive di tanah orang. Apa kata orang kalau pulang nanti badan kami kurus kering. Bakal timbul pertanyaan-pertanyaan serius dari tetangga dan keluarga besar yang susah kami jawab, seperti:
“Kok kamu kurusan? Makannya sedikit ya? Kurang gizi ya? Uang bulanannya kurang ya?” Kan kasihan orang tua, dikiranya nanti men-dzolimi anak.
Kecuali temanku satu ini, Nina. Dengan atau tanpa rencana survive pun dia tidak akan dikhawatirkan karena masalah kekurangan gizi. Justru kami yang harusnya khawatir, anak ini tidak tau yang namanya prihatin. Mau makan banyak atau sedikit badannya tetap saja ‘subur’.
Sebaliknya, temanku satu lagi, Devi. Sebanyak apapun dia makan, badannya tetap saja mengkhawatirkan. Entah kemana perginya zat-zat makanan yang masuk ke tubuhnya. Seperti angka sepuluh saja jika disandingkan dengan si Nina.
Kalau aku, ada yang tanya tidak? Oh, tidak ada. Baiklah, kita lanjutkan saja ceritanya.
Malam ini, malam pertama kami menyambutnya. Kami berdandan rapi, terbalut kain besar mukena yang menutupi seluruh badan. Tentu saja badan kami harus bersih dan harum. Saat keluar rumah kontrakan ternyata bukan hanya kami yang tak sabar menyambutnya. Beberapa orang berbondong-bondong berjalan ke arah yang sama. Kami menyalami beberapa wanita yang kami temui dalam perjalanan.
Sampai di masjid, ternyata tidak hanya kami yang tidak sabar menemuinya. Buktinya, Masjid yang biasanya hanya terisi dua-tiga baris shaf  saja, kini justru takmir harus menyediakan shaf tambahan di aspal. Jalan kecil itu sengaja ditutup untuk mengantisipasi membludaknya jamaah seperti ini.
Namun bagaimanapun juga, yang terpenting adalah niat untuk melaksanakan ibadah itu. Shalat kali ini spesial. Tidak hanya shalat Isya’ yang kami tunaikan, kami menambahkan shalat tarawih delapan rakaat dan diakhiri dengan shalat Witir tiga rakaat. Di samping itu, ada pula yang tidak berubah. Seperti hari-hari sebelumnya, shalat kami laksanakan dengan penuh khidmat bersujud pada Yang Maha Kuasa pencipta alam semesta ini.
Pulang dari masjid, kami bertiga berkumpul mengadakan suatu rapat kecil yang sangat penting mengenai kelangsungan hidup umat manusia.
“Kita harus membuat strategi,” aku memulai pembicaraan.
“Mau pakai strategi lama atau buat baru?” imbuh Nina.
“Sepertinya strategi lama kurang optimal. Kita butuh strategi baru. Ada yang punya ide?”
“Mau makan tinggal makan, repot pakai strategi,” sanggah Devi.
“Bukan masalah makan atau gak makan, Dev. Ini masalah kondisi kesehatan kantong. Kalau kantongnya gak sehat, aku jadi ikut sedih. Ya gak, Nin?”
“Tul banget,” kata Nina sembari mengunyah keripik kentangnya.
“Okey, kali ini kita roadshow. Siapa yang dapat info tempat menarik, share, kita realisasi. Setuju?” Aku mengangkat tangan yang terkepal seperti pahlawan yang meneriakkan semangat perjuangan.
“SETUJU !!!” jawab Nina tak kalah semangatnya.
!=!!=!
Hari pertama Ramadhan.
Puasa bukanlah hal berat bagi kami. Hari pertama ini kami lalui dengan cepat. Target kami hari ini adalah masjid kampus tempat kami kuliah. Biasanya masjid atau mushola mengadakan kajian yang dimulai pukul 16.30 sampai dengan waktu berbuka. Oleh karenanya, meskipun kami bertiga memiliki aktivitas yang berbeda, kami sepakat berkumpul di masjid itu tepat waktu kajian dimulai.
Kajian diisi oleh seorang ustadz muda. Wajahnya tak asing, ya – setelah ku ingat-ingat ia merupakan salah satu alumni di kampusku. Ia memilih tema ikhlas dalam kajian pertama di Bulan Ramadhan. Satu per satu orang datang. Dilihat dari rupa dan stylenya, mereka yang datang hampir semua merupakan mahasiswa. Tidak terlalu banyak, sepertinya lebih didominasi oleh organisasi rohis dan beberapa penyusup sepertiku.
Tak banyak orang yang ku kenal. Tentu saja kami tidak bisa banyak mengobrol. Hanya sekedar bertegur sapa dengan jabat tangan dan senyuman. Memang tidak ada larangan, tapi memang tujuan kita di sini adalah mendengarkan kajian. Bukan untuk mengobrol, apalagi menggunjing. Saat waktu magrib tiba, kajian ditutup dengan salam. Seorang muadzin mengumandangkan adzan, tanda waktu berbuka.
Allaahumma lakasumtu wabika aamantu wa'alaa rizqika afthortu birohmatika yaa arhamar roohimiin.” Tanpa perlu disuruh, kami membaca doa berbuka puasa.
Kami meminum segelas teh hangat yang telah dihidangkan. Hmmm… Surga dunia. Dilanjutkan dengan ritual membuka bungkus nasi. Aku, Nina, dan Devi saling bertukar pandangan.
Makhluk tak bernyawa di depan kami begitu seksi. Berkulit coklat, aromanya wangi, saat dibuka – wuihh – warna dan teksturnya sempurna.
“Ayam bakar, euy,” bisikku pada mereka.
Nina langsung menyantapnya tanpa basa-basi. Belum sampai makanan itu masuk ke mulutnya, tangan Devi mencegahnya.
“Doa dulu, euy.
Dengan raut muka kecewa, Nina menunda santapannya. “Allahumma baarik llanaa fiima razaqtanaa waqinaa adzaa ban-naar.
Selesai berdoa, makanan itu mulai masuk ke mulut kami. Nina memandangku dengan tatapan aneh.
“Ada apa?” tanyaku.
“Pecah, euy. Sambalnya, luar biasa. Maknyusss…”
“Halah, kirain. Nah, Dev, kamu kenapa? Sudah, jangan sedih. Bapak ibu di rumah juga makan enak kok. Jangan nangis.”
“Pedes, euy.” Baru santapan pertama, Devi sudah mengeluarkan air mata.
Dia memang paling tidak kuat makan pedas. Kalau sudah begini, biasanya sambal itu akan jadi rebutan olehku dan Nina. Tapi berhubung ini di masjid, kami berebut dalam diam.
Alhamdulillah… Luas biasa. Surga dunia. Ayuk shalat.” Seperti biasa, Nina lah yang paling cepat habis makanannya.
“Bentar, euy. Belum habis. Wudhu dulu sana. Keburu antri banyak.”
Selesai makan, kami menunaikan shalat magrib berjamaah. Lantas kami pulang ke kontrakan.
“Besok kemana lagi kita?”
!=!!=!
Hari ke lima.
“Kayaknya besok kita gak usah ke mushala samping kontrakan lagi deh,” Nina memasang muka masam.
Aku tertawa melihat ekspresi mukanya. “Sebungkus buat bertiga. Haha… Pulangnya makan lagi sebagor.”
Dua hari terakhir kami tidak ada waktu untuk roadshow. Sibuk dengan urusan masing-masing. Akhirnya kami memilih mushala dekat kontrakan sebagai tempat perburuan.
Kami baru tau mushala itu hanya menyiapkan sedikit nasi bungkus. Awalnya kami mendapat dua bungkus nasi. Tiba-tiba seorang anak menumpahkan makanannya. Berhubung nasi bungkus sudah habis. Aku memberikan jatahku padanya. Alhasil, kami makan nasi sebungkus bertiga. Romantis bukan?
Keesokan harinya kurang beruntung lagi. Perburuan kami gagal. Banyak anak-anak yang berebut. Kami duduk diam mendengarkan kajian sembari menunggu antrian sepi. Detik-detik terakhir menuju waktu berbuka, jreng, jreng… nasi bungkus habis. Hanya mendapat segelas teh hangat sekedar untuk membatalkan puasa.
“Jangan bilang hanya. Syukur sudah dapat teh. Yang penting sehat. Nanti aku traktir makan di luar deh,” kata-kata Devi begitu menyejukkan hati menghibur kami. Aku tidak yakin mana yang lebih menghibur antara ‘yang penting sehat’ atau tentang ‘traktir makan’.
Keesokan harinya, kami terpaksa menunda roadshow. Inilah ancaman yang paling mengkhawatirkan. Acara buka bersama dengan teman kuliah, organisasi, komunitas, dan lain-lain. Usaha survive kami kacau gara-gara ini. Makan di warung makan membuat kantong kempes. Jika berusaha menghindar nanti dikata-katain gak setia kawan lah, sombong lah, sok sibuk lah, ini lah, itu lah. Hufff…
Hari ke lima belas.
“Aku tadi lihat spanduk. Masjid di Jogojaya nyiapin 1500 porsi, euy,” kata Nina dengan semangat.
“Jauh, euy. Cari yang dekat aja,” Devi malas menanggapinya.
Kami berdua memandang Devi dengan tatapan pamungkas. Tak kuasa melawan senjata itu akhirnya Devi menyerah. “Ya, ya, ayo berangkat.”
Jauh memang, apalagi harus melihat antrian yang sangat panjang setibanya di sana. Devi sudah lemas dibuatnya. Tiba giliran kami mengambil makanan.
Nina melirikku.“Surga dunia, gule kambing, euy.
Aku melirik Nina menunjukkan sesuatu. “Nikmat Allah mana lagi yang kau dustakan. Es buah, euy.
Tak sia-sia perjuangan kami jauh-jauh datang kemari dan berdiri lama mengantri. Beberapa hari setelahnya kami masih belum bisa move on dari masjid ini. Menu-menu hari selanjutnya tidak kalah menggoda. Seperti; nasi padang, soto daging, dan sate ayam.
Hari ke dua puluh tiga.
“Besok aku mudik. Ini hari terakhir roadshow kita. Harus spesial, euy,” kata Nina.
“Emm… Maaf aku gak bisa. Hari ini aku ada acara sama komunitasku,” jawabku.
“Yah, gak asik, euy.
“Kalian ikut acaraku aja yuk.”
“Kemana?” tanya Devi.
“Nanti juga tau.”
Mereka setuju untuk ikut.
Inilah komunitas yang aku ikuti selama beberapa tahun terakhir. Blood for Others, atau sering disebut BFO. Yakni komunitas para pendonor darah. Kami memiliki cara sendiri untuk menunjukkan rasa syukur atas kesehatan yang Allah berikan dengan cara berbagi darah. Setetes darah sehat kita merupakan harapan hidup bagi mereka yang membutuhkan. Sakitnya suntikan jarum tidak ada apa-apanya dibanding sakitnya mereka melawan kematian. Di samping itu, tubuh kita juga akan merasa lebih sehat jika rutin melakukannya. Buktinya, aku jarang sakit dan bisa berdiri di sini.
Sore kali ini kami membagikan selebaran berisi tulisan tentang donor darah dan stiker BFO kepada para pengendara. Beberapa di antara kami membagikan bungkusan nasi dan air mineral kepada anak jalanan, tukang becak, dan penjual koran.
“Gak nyangka ya, Sa.” Nina berbicara padaku. “Gak nyangka bantu orang seperti ini ngalah-ngalahin senangnya makan gule gratis.”
“Hmm… Jangan salah. Nikmatnya beda, euy. Gak ada tandingannya,” jawabku.
“Ada lagi yang lebih nikmat, euy,” timpal Devi.
“Apa?” Nina penasaran.
“Badan sehat, makan bareng-bareng sama keluarga di rumah.”
Kami bertiga tertawa bersama, lebih tepatnya menertawakan tingkah kita selama ini.


!=!Selesai!=!

Hak cipta © Juni 2017

Resensi Film : SERENDIPITY

Judul           : Serendipity Rilis            : 9 Agustus 2018 Genre         : Drama/Romance Sutradara   : Indra Gunawan Negar...