Minggu, 18 Maret 2018

WISATA ALAM JOGJA LANTAI DUA, PANTAI KEBHINEKAAN

Indonesia, never ending destination, begitulah aku menyebutnya. Di setiap sudut Indonesia terdapat destinasi wisata yang menarik. Mulai dari Sabang hingga Merauke terdapat wisata alam, wisata religi, wisata budaya, wisata kuliner dan wisata edukasi. Saya sebagai warga negara Indonesia tak pernah merasa puas untuk menikmati kekayaan luar biasa ini. Entah alasan apa Allah menciptakan Indonesia dengan segala kenikmatan. Jika ingin merasakan indahnya surga dunia, jelajahi Indonesia. Negara yang memiliki 34 provinsi ini disebut juga dengan negara maritim karena dua per tiga bagiannya merupakan wilayah laut.
Aku lahir dan besar di salah satu kabupaten kecil di sisi selatan Jawa Timur, Tulungagung, atau biasa disebut dengan kota marmer. Berpetualang menjadi salah satu dari sekian hobiku. Meskipun telah menjajaki beberapa tempat wisata sejak sekolah menengah, rasa puas itu belum ada. Hingga saya memutuskan untuk mengambil pendidikan tinggi di sebuah kota yang memiliki kelima jenis wisata.
Kota ini memiliki banyak sebutan; kota pelajar, kota budaya, kota gudeg, dan sebutan lain yang mungkin belum aku ketahui. Ya, mana lagi kalau bukan Yogyakarta. Sejak menginjakkan kaki di tanah ini, sudah lumayan banyak tempat yang aku kunjungi. Namun, setelah enam tahun berjalan, baru aku merasa perlu menuliskan perjalananku ini. Apakah terlambat untuk mulai berbagi cerita? Kata orang, tidak ada kata terlambat. Jadi, aku akan mulai bercerita perjalananku hari ini, lengkap dengan biaya yang kukeluarkan agar bisa menjadi referensi pembaca jika nantinya mencoba berkunjung.
Bertepatan pada hari Sabtu, 17 Maret 2018, kalender nasional memberikan tinta merah untuk memperingati Hari Raya Nyepi. Kesempatan ini aku gunakan untuk sedikit menyegarkan otak dari rutinitas harian. Sejak satu minggu yang lalu aku sudah menandai beberapa pantai di Kabupaten Gunung Kidul atau yang biasa disebut dengan ‘Jogja Lantai Dua’, tepatnya di Desa Kanigoro Kecamatan Saptosari.
Aku tidak sendiri, ditemani oleh Mbak dan suaminya, kami berangkat dari Kabupaten Bantul. Perlu waktu kurang lebih dua jam untuk tiba di tempat tujuan. Jika berangkat dari Kota Yogyakarta akan menempuh waktu yang tidak jauh berbeda. Pagi hari cuaca cerah sangat mendukung. Seakan sengaja membuat kami tenggelam dalam kenikmatan suasana. Memasuki Jalan Wonosari, jalanan sedikit demi sedikit menanjak. Sampai bertemulah kami pada jalanan berliku, lalu menyempit dan curam. Bergitulah kira-kira kondisi perjalanan yang harus ditempuh. Belum lagi jika hari libur seperti ini, harus ekstra sabar menghadapi kemacetan. Beruntung kami mengetahui jalan alternatif bebas hambatan, sehingga perjalanan lebih cepat. Di setiap sisi jalan, alam menyuguhkan pemandangan yang menyejukkan mata. Rimbunan pohon dan bentang sawah nan hijau menjadi panorama utama.
Jangan lupa ketika melewati loket harus membayar tiket masuk wisata. Tidak mahal, cukup membayar Rp 5.000,- / orang kami bisa menikmati empat pantai sekaligus. Sangat murah bukan? Tempat pertama yang kami datangi adalah Pantai Ngrenehan. Tiba di tempat itu, kami disuguhi deretan perahu nelayan yang terparkir rapi di atas pasir. Ombaknya cenderung tenang karena diapit oleh dua karang raksasa.

Gambar. Ikon Pantai Kebhinekaan


Gambar. Pantai Ngrenengan - Deretan perahu nelayan

Gambar. Pantai Ngrenehan - Diapit oleh dua karang raksasa

Gambar. Pantai Ngrenehan - Pemandangan 360 derajat

Beberapa orang terlihat berenang bebas tanpa ada pengawasan dari penjaga pantai. Ah, aku tidak sabar untuk segera berbasah ria. Benar saja, air yang tak terlalu banyak bergerak itu memberikan keamanan pada perenang pemula sepertiku. Eits… tapi jangan lengah. Meskipun angin tidak terlalu kencang, aliran air yang terlihat tenang diam-diam bisa menghanyutkan. Terbukti, saat terlalu asyik berenang, tanpa sadar aku telah berada jauh dari bibir pantai. Kakiku bahkan tak bisa menyentuh dasar laut, membuatku sedikit panik. Aku bergegas berenang ke tepi sebelum tenagaku habis untuk bertahan di air. Maklum, perenang amatir dan sangat pemula. Dari kejadian inilah aku bertekad untuk melatih terus kemampuan berenangku agar dapat menyelam melihat terumbu karang suatu saat nanti. Nah, bagi para pemula sepertiku, sebaiknya jaga posisi tak jauh dari bibir pantai atau pastikan selalu dalam pengawasan ahli.
Tak puas hanya dengan berenang. Rayuan para nelayan untuk menaiki perahunya sukses membuat kami luluh. Hanya dengan membayar Rp 25.000,- / orang, kami dapat menaiki perahu nelayan untuk mengelilingi lautan. Awalnya aku sedikit takut karena ini adalah pertama kalinya di atas jutaan liter air laut. Berkat angin yang tidak berhembus terlalu kencang, perahu kecil itu bisa melaju dengan tenang. Meskipun pengemudi menjamin keamanan dan keselamatan, jangan lupa pula memastikan pelampung terpasang kuat di badan untuk berjaga-jaga apabila terjadi hal yang tak diinginkan.

Gambar. Pantai Ngrenehan - Penumpang perahu nelayan

Gambar. Pantai Ngrenehan – Pemandangan dari tengah laut


Gambar 5. Pantai Ngrenehan – Garis batas langit dan air

Angin seakan menghipnotisku, tanpa sadar kami telah berada beberapa kilometer dari bibir pantai. Dari tengah laut kami dapat melihat tiga pantai lain yang telihat tak kalah menarik. Saat itu aku berharap ada burung camar beterbangan di atas kami, lumba-lumba yang meloncat kesana-kemari, atau mungkin ikan yang dapat terlihat dari permukaan. Hahaha… Sayangnya satupun tak dapat kutemukan. Hanya portrait air dan langit biru yang mendominasi pemandangan. Sekitar lima belas menit kemudian, kemudi membalikkan arah dan kami tiba di bibir pantai.
Tanpa terasa waktu berlalu teramat cepat. Memasuki tengah hari, alarm alam berbunyi di perut. Menandakan kami harus istirahat dan mengisi tenaga. Kami sepakat untuk menikmati makan siang di pantai selanjutnya. Sebelum pergi, jangan lupa untuk membayar jasa parkir Rp 5.000,- / mobil.
Sekitar lima menit kemudian kendaraan kami tiba di Pantai Ngobaran. Di pantai ini, angin lebih kencang dan ombak beriak.

Gambar 6. Pantai Ngobaran

Gambar 7. Pantai Ngobaran

Tempat yang tepat untuk kami menikmati santap siang. Kebetulan Mbak memasak makanan yang sangat lezat pagi ini, sengaja membawanya sebagai bekal makan siang, terlepas dari banyaknya makanan yang dijual oleh para pedagang. Hijaunya kelapa muda membuatku tergiur untuk meminumnya, hanya perlu merogoh kocek Rp 10.000,- / buah. Makan siang, es kelapa muda, dan kurang lengkap rasanya jika tidak menyicipi aneka makanan laut yang telah digoreng krispi. Lantas aku membeli ikan balur krispi yang sangat nikmat, gurih dan renyah seharga Rp 15.000,- / 250 gram. Berhubung ikan balur krispi itu ringan, jadi 250 gram sudah cukup banyak untuk dinikmati bertiga. Selesai makan, tak lupa kami menunaikan ibadah shalat Dzuhur karena adzan telah berkumandang. Seasyik apapun berpetualang, jangan lupa bersyukur dan melaksanakan perintah Sang Pencipta alam semesta.
Setelah tubuh mendapatkan tenaganya, kami kembali menikmati nuansa alam. Air yang surut menampakkan aneka tumbuhan dan hewat laut. Ada sensani tersendiri ketika telapak kaki menyentuh karang yang dilapisi oleh alga. Di sini, penjual menawarkan jaring dan ember kecil seharga Rp 10.000,- / set untuk menangkap ikan-ikan kecil. Tak hanya anak kecil, orang dewasa pun turut berlomba mendapatkan ikan. Ikan-ikan kecil ini sangat gesit, membuat orang kuwalahan untuk menangkapnya. Ah, selain ikan ada juga hewan lain seperti bintang laut, bulu babi, dan lain-lain.


Gambar. Pantai Ngobaran – Jaring dan ember

Gambar. Pantai Ngobaran - Berburu ikan

Gambar. Pantai Ngobaran - Bintang laut

Gambar. Pantai Ngobaran – Patung dan Bangunan Hindu

Perjalanan kami berlanjut ke Pantai Nguyahan tak jauh dari Pantai Ngobaran. Cukup berjalan kaki selama sepuluh menit dan sekali lagi pemandangan indah menyambut kami. Pantai ini tak jauh berbeda dengan pantai sebelumnya. Di sini, pengunjung juga dapat berburu ikan dan melihat beberapa biota laut.

Gambar. Pantai Nguyahan

Gambar. Pantai Nguyahan – Pemandangan 360 derajat

Gambar. Pantai Nguyahan – Garis batas langit dan pantai

Kumandang adzan Ashar mengingatkan kami akan waktu yang terlupakan. Tiba saatnya keluar dari air laut dan kembali menghadap Sang Pencipta. Tak lama selesai ibadah shalat Ashar, cahaya mentari semakin tertutup oleh mendung. Kami terpaksa bergegas meninggalkan tempat indah ini. Jika ingin tahu biaya parkir, yakni senilai Rp 10.000,- / mobil.
Tak berselang lama, tetesan air langit mengguyur kami. Beruntung kami telah berada di dalam mobil. Sepanjang perjalanan pulang kami terpaksa menerobos samar-samar jalan yang tertutup air hujan. Kami harus ekstra hati-hati, melewati jalan berliku, curam, dan tentu saja licin. Jika ragu melewati kondisi seperti ini, sebaiknya menepi dan menunggu hujan reda.

Gambar. Penglihatan jalan samar-samar

Demikian cerita perjalanan hari ini. Dalam kondisi dan situasi apapun tak kan membuatku jera untuk melanjutkan petualangan. Semua foto yang dilampirkan merupakan dokumentasi pribadi hasil jepretan fotografer abal-abal hanya dengan menggunakan kamera ponsel. Harap dimaklumi, haha….
Terima kasih telah menyempatkan diri membaca. Sampai jumpa di episode jalan-jalan selanjutnya.


Selasa, 06 Maret 2018

OGEN DAN KARDI



Sumber gambar: wired.com

Mentari malu-malu menyembunyikan cahyanya di balik gunung. Para pasukan Molekul Senyawa bersimbol CO2 dari kerajaan Karbon Dioksida berhenti memasuki tubuh tumbuhan. Begitu pula para Molekul Unsur dari kerajaan Oksigen dengan simbol O2 turut berhenti beranak-pinak. 

Mereka mengikuti titah Sang Pencipta untuk menghentikan rutinitas siang hari yang bernama fotosintesis. Karena kegiatan itu tak bisa terlaksana tanpa bantuan dari panas mentari. Tentu saja, cahaya mentari tak menyorot langsung ke bumi pada malam hari, hanya membias melalui satelit bumi, rembulan.
Saat bertemu malam, rutinitas mereka berubah. Tumbuhan tak lagi menarik Karbon Dioksida untuk memasuki dirinya. Ia merayu para pasukan Oksigen berkencan. Tak mau kalah dengan makhluk hidup lain yang disebut manusia dan hewan. Siapa bilang tumbuhan tak butuh bernafas?
Bernafas itu adalah bahasa manusia. Alam menyebutnya respirasi. Tumbuhan akan melakukannya setelah mentari bersembunyi, malam hari. Dia ingin terlihat angkuh pada mentari, seakan tak butuh bernafas. Padahal rembulan diam-diam berbisik pada mentari.
“Hei, Men. Tumbuhan itu tak sekuat yang kaulihat. Dia hanya pura-pura di depanmu,” ujar Rembulan.
“Dari mana kau tahu, Bul?” tanya Mentari penasaran.
“Aku melihatnya sendiri. Dia merayu manja pada pasukan kerajaan Oksigen.”
“Ahahahah…” Mentari tertawa geli mendengar tingkah Tumbuhan. “Biarlah, asal mereka hidup dalam kebahagiaan, aku tak akan tersinggung.”
Begitulah percakapan Rembulan dan Mentari ketika mengungkap rahasia Tumbuhan.
Kerajaan Oksigen kini terpecah belah. Tak hanya manusia dan hewan yang meminta dilayani. Bahkan Tumbuhan rela merayu dan menunduk untuk memintanya datang. Raja harus berlaku bijaksana. Ia memerintahkan beberapa peleton pasukannya untuk menuruti kebutuhan Tumbuhan. Para pasukan hanya bisa mengiyakan perintah Raja Oksigen.
Suatu malam, ada seorang Anak Manusia yang mencintai sebuah Tumbuhan. Ia tak mau jauh dari Tumbuhan yang sengaja ia tanam di dalam pot besar. Dibawanya Tumbuhan itu ke dalam ruang tidurnya. Tempat itu tertutup, hanya ada sedikit celah bagi pasukan Oksigen dan Karbon Dioksida untuk bergantian masuk. Tentu saja tak banyak yang mendapatkan giliran. Banyak Oksigen yang mengantri untuk masuk. Sementara Karbon Dioksida lamban keluar.
Di dalam ruang enam sisi itu, Anak Manusia terlelap dalam mimpi. Oksigen mulai marah pada Karbon Dioksida karena perlakuan semena-menanya.
“KarDi, Biarkan pasukanku masuk terlebih dahulu. Jika pasukanku habis di dalam sini, Manusia itu akan mati,” pemimpin pasukan Oksigen berusaha bernegosasi dengan pemimpin pasukan Karbon Dioksida.
“Santai sedikitlah, Gen. Coba perhatikan. Sebenarnya jumlah pasukanmu yang masuk sama dengan pasukanku yang keluar,” KarDi melingkarkan lengan pada pundak Ogen untuk menenangkannya.
Ogen mengerutkan dahinya. Setelah dipikir-pikir rivalnya itu memang benar.
KarDi melanjutkan. “Salahkan Manusia itu yang menyediakan saluran udara sekecil itu. Jumlah pasukanmu menjadi sangat terbatas. Aku paham betul maksudmu. Jangan mengira bahwa aku egois.”
Ogen mendengus sebal. “Apalagi ada Tumbuhan hijau itu yang merebut pasukanku. Aku hanya menjalankan perintah Raja. Hei, lihat Manusia itu mulai kesulitan bernafas. Apa yang harus kita lakukan?”
Lanjutkan membaca, klik link di bawah ini!

_____________________________________________________________
Hak cipta © Februari 2018

PESAN DALAM TULIP

Penulis: Razan Fuku


....................
“Selamat ulang tahun. Ini bibit bunga tulip hadiah buat kamu. Bunga ini banyak bermekaran di Belanda. Di Indonesia juga ada katanya, tapi langka. Tulip itu melambangkan perasaan cinta. Nanti kita tanam bersama ya.”
“Kamu ngasih tulip, artinya kamu cinta aku?”
“Gak. Tulipnya yang cinta kamu, bukan aku.”
Aku memasang muka cemberut. Arya tertawa terbahak-bahak puas mengerjaiku. Begitulah Arya, suka merusak suasana romantis yang dia bangun sendiri. Sungguh menyebalkan sekaligus tingkah khasnya yang membuat rindu.
....................
(Baca cerita lengkapnya hanya di buku antologi fiksi mini Kisah dalam Buket)
_________________________


Sumber gambar: koleksi pribadi

Fiksi mini berjudul Pesan dalam Tulip karya Razan Fuku ini telah lolos sebagai Fiksi Mini Terpilih dalam Lomba Cipta Fiksi Mini Nasional 'Kisah dalam Buket' yang diadakan oleh Jejak Publisher pada bulan April-Mei 2017.
Di dalam buku ini juga terdapat 87 fiksi mini lainnya. Berbagai macam bunga dan kisahnya tertuang apik dalam berbagai sudut pandang. Kisah senang dan haru akan melebur dalam emosi pembaca. Antologi fiksi mini Kisah dalam Buket telah terbit pada bulan Agustus 2017. 
Informasi lebih lanjut hubungi author.razanfuku@gmail.com.

________________________

Hak cipta © Agustus 2017

Sabtu, 17 Februari 2018

DARAHKU, DAGINGKU

Penulis : Razan Fuku

........................
Tengah malam dalam kesendirian aku menembus sunyi dan kegelapan hutan Ngawi. Ditemani bayang-bayang kenangan dan keinginan menggelora untuk bertemu buah hatiku.
Sayang sekali aku terlambat. Aku berhenti sebentar di Alun-alun Temanggung untuk menunaikan ibadah shalat id. Lalu aku melanjutkan perjalanan. Dua jam kemudian aku sampai di depan rumah.
Depan rumah dipenuhi orang-orang yang datang dan pergi. Kursi-kursi terjejer rapi, lengkap dengan terop di atasnya. Aku memarkirkan mobil dengan rapi di kejauhan. Kulihat mereka bersalam-salaman. Beberapa lelaki bergantian memeluk Bapak Mertua. Aku berjalan mendekat. Para wanita duduk di dalam rumah.


“Ada apa ini?” Aku bertanya bingung. Bapak merangkulku erat. “Pak? Ada apa, Pak?”
...........................
(Baca cerita lengkapnya hanya di buku antologi cerita pendek Lailan)
_____________________________________________

Sumber gambar: koleksi pribadi

Cerita pendek ini menjadi salah satu dari 25 cerita pendek terpilih dalam kegiatan Nulis Bareng yang diadakan oleh Yesi Astria pada Mei-Juni 2017.
Cerita lengkap dapat dibaca di buku antologi cerita pendek berjudul 'Lailan' yang telah terbit pada bulan Juli 2017. Buku terbitan Pena Biru Publishing ini berisi karya Razan Fuku, Yesi Astria dan 23 penulis lainnya.
Info lebih lanjut silahkan kontak email author.razanfuku@gmail.com.

__________________________

Hak cipta © Juli 2017

Selasa, 09 Januari 2018

MUDA BEBAS, KATANYA

Penulis: Razan Fuku


Meja, kursi tercecer
Layaknya kacang dalam keranjang
Berserakan kotor
Tinta hitam, putih
Tercoret berani di permukaannya
Seni, kata mereka

Terukir nama hewan
Terlukis organ tubuh
Tergambar ornamen abstrak
Tersirat kata mutiara, busuk...
Ekspresi, kata mereka

Sekotak lorong kecil dalam meja
Bak sarang bagi sang penghisap darah
Berkembang biak
Bersembunyi dalam gelap
Berdesakan dengan plastik dan kertas lusuh
Bau, kotor, penyakit
Bebas, telah bayar, kata mereka

Jika coretan itu imajinasi
Jika kebebasan itu ego
Mereka yang merusak adalah sampah negara
Bibit buruk revolusi

Sumber gambar: http://static1.businessinsider.com

Sabtu, 11 November 2017

PPT (PARA PEMBURU TAKJIL)

Penulis : Razan Fuku


Malam telah tiba. Terdengar suara seorang lelaki dari speaker masjid. Ia memulainya dengan salam. Lelaki itu memberikan beberapa pengumuman penting. Aku dan kedua temanku mendengarkannya dengan seksama. Selesai memberikan pengumuman, ia menutupnya dengan salam. Lalu berkumandanglah adzan Isya’. Kami bertiga bergegas mengambil air wudhu.
Yayyyy…
Yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Aku sudah tidak sabar menemuinya. Begitu pula dengan kedua kawan senasib-seperjuanganku. Bayangkan, kami cuma bisa menemuinya sekali dalam setahun. Bagaimana bisa kami tidak rindu. Ini tahun kedua kami menemuinya bersama-bersama.
Keadaan memaksa kami untuk hidup mandiri, jauh dari keluarga. Untuk itu, perlu rencana yang matang agar kami bisa survive di tanah orang. Apa kata orang kalau pulang nanti badan kami kurus kering. Bakal timbul pertanyaan-pertanyaan serius dari tetangga dan keluarga besar yang susah kami jawab, seperti:
“Kok kamu kurusan? Makannya sedikit ya? Kurang gizi ya? Uang bulanannya kurang ya?” Kan kasihan orang tua, dikiranya nanti men-dzolimi anak.
Kecuali temanku satu ini, Nina. Dengan atau tanpa rencana survive pun dia tidak akan dikhawatirkan karena masalah kekurangan gizi. Justru kami yang harusnya khawatir, anak ini tidak tau yang namanya prihatin. Mau makan banyak atau sedikit badannya tetap saja ‘subur’.
Sebaliknya, temanku satu lagi, Devi. Sebanyak apapun dia makan, badannya tetap saja mengkhawatirkan. Entah kemana perginya zat-zat makanan yang masuk ke tubuhnya. Seperti angka sepuluh saja jika disandingkan dengan si Nina.
Kalau aku, ada yang tanya tidak? Oh, tidak ada. Baiklah, kita lanjutkan saja ceritanya.
Malam ini, malam pertama kami menyambutnya. Kami berdandan rapi, terbalut kain besar mukena yang menutupi seluruh badan. Tentu saja badan kami harus bersih dan harum. Saat keluar rumah kontrakan ternyata bukan hanya kami yang tak sabar menyambutnya. Beberapa orang berbondong-bondong berjalan ke arah yang sama. Kami menyalami beberapa wanita yang kami temui dalam perjalanan.
Sampai di masjid, ternyata tidak hanya kami yang tidak sabar menemuinya. Buktinya, Masjid yang biasanya hanya terisi dua-tiga baris shaf  saja, kini justru takmir harus menyediakan shaf tambahan di aspal. Jalan kecil itu sengaja ditutup untuk mengantisipasi membludaknya jamaah seperti ini.
Namun bagaimanapun juga, yang terpenting adalah niat untuk melaksanakan ibadah itu. Shalat kali ini spesial. Tidak hanya shalat Isya’ yang kami tunaikan, kami menambahkan shalat tarawih delapan rakaat dan diakhiri dengan shalat Witir tiga rakaat. Di samping itu, ada pula yang tidak berubah. Seperti hari-hari sebelumnya, shalat kami laksanakan dengan penuh khidmat bersujud pada Yang Maha Kuasa pencipta alam semesta ini.
Pulang dari masjid, kami bertiga berkumpul mengadakan suatu rapat kecil yang sangat penting mengenai kelangsungan hidup umat manusia.
“Kita harus membuat strategi,” aku memulai pembicaraan.
“Mau pakai strategi lama atau buat baru?” imbuh Nina.
“Sepertinya strategi lama kurang optimal. Kita butuh strategi baru. Ada yang punya ide?”
“Mau makan tinggal makan, repot pakai strategi,” sanggah Devi.
“Bukan masalah makan atau gak makan, Dev. Ini masalah kondisi kesehatan kantong. Kalau kantongnya gak sehat, aku jadi ikut sedih. Ya gak, Nin?”
“Tul banget,” kata Nina sembari mengunyah keripik kentangnya.
“Okey, kali ini kita roadshow. Siapa yang dapat info tempat menarik, share, kita realisasi. Setuju?” Aku mengangkat tangan yang terkepal seperti pahlawan yang meneriakkan semangat perjuangan.
“SETUJU !!!” jawab Nina tak kalah semangatnya.
!=!!=!
Hari pertama Ramadhan.
Puasa bukanlah hal berat bagi kami. Hari pertama ini kami lalui dengan cepat. Target kami hari ini adalah masjid kampus tempat kami kuliah. Biasanya masjid atau mushola mengadakan kajian yang dimulai pukul 16.30 sampai dengan waktu berbuka. Oleh karenanya, meskipun kami bertiga memiliki aktivitas yang berbeda, kami sepakat berkumpul di masjid itu tepat waktu kajian dimulai.
Kajian diisi oleh seorang ustadz muda. Wajahnya tak asing, ya – setelah ku ingat-ingat ia merupakan salah satu alumni di kampusku. Ia memilih tema ikhlas dalam kajian pertama di Bulan Ramadhan. Satu per satu orang datang. Dilihat dari rupa dan stylenya, mereka yang datang hampir semua merupakan mahasiswa. Tidak terlalu banyak, sepertinya lebih didominasi oleh organisasi rohis dan beberapa penyusup sepertiku.
Tak banyak orang yang ku kenal. Tentu saja kami tidak bisa banyak mengobrol. Hanya sekedar bertegur sapa dengan jabat tangan dan senyuman. Memang tidak ada larangan, tapi memang tujuan kita di sini adalah mendengarkan kajian. Bukan untuk mengobrol, apalagi menggunjing. Saat waktu magrib tiba, kajian ditutup dengan salam. Seorang muadzin mengumandangkan adzan, tanda waktu berbuka.
Allaahumma lakasumtu wabika aamantu wa'alaa rizqika afthortu birohmatika yaa arhamar roohimiin.” Tanpa perlu disuruh, kami membaca doa berbuka puasa.
Kami meminum segelas teh hangat yang telah dihidangkan. Hmmm… Surga dunia. Dilanjutkan dengan ritual membuka bungkus nasi. Aku, Nina, dan Devi saling bertukar pandangan.
Makhluk tak bernyawa di depan kami begitu seksi. Berkulit coklat, aromanya wangi, saat dibuka – wuihh – warna dan teksturnya sempurna.
“Ayam bakar, euy,” bisikku pada mereka.
Nina langsung menyantapnya tanpa basa-basi. Belum sampai makanan itu masuk ke mulutnya, tangan Devi mencegahnya.
“Doa dulu, euy.
Dengan raut muka kecewa, Nina menunda santapannya. “Allahumma baarik llanaa fiima razaqtanaa waqinaa adzaa ban-naar.
Selesai berdoa, makanan itu mulai masuk ke mulut kami. Nina memandangku dengan tatapan aneh.
“Ada apa?” tanyaku.
“Pecah, euy. Sambalnya, luar biasa. Maknyusss…”
“Halah, kirain. Nah, Dev, kamu kenapa? Sudah, jangan sedih. Bapak ibu di rumah juga makan enak kok. Jangan nangis.”
“Pedes, euy.” Baru santapan pertama, Devi sudah mengeluarkan air mata.
Dia memang paling tidak kuat makan pedas. Kalau sudah begini, biasanya sambal itu akan jadi rebutan olehku dan Nina. Tapi berhubung ini di masjid, kami berebut dalam diam.
Alhamdulillah… Luas biasa. Surga dunia. Ayuk shalat.” Seperti biasa, Nina lah yang paling cepat habis makanannya.
“Bentar, euy. Belum habis. Wudhu dulu sana. Keburu antri banyak.”
Selesai makan, kami menunaikan shalat magrib berjamaah. Lantas kami pulang ke kontrakan.
“Besok kemana lagi kita?”
!=!!=!
Hari ke lima.
“Kayaknya besok kita gak usah ke mushala samping kontrakan lagi deh,” Nina memasang muka masam.
Aku tertawa melihat ekspresi mukanya. “Sebungkus buat bertiga. Haha… Pulangnya makan lagi sebagor.”
Dua hari terakhir kami tidak ada waktu untuk roadshow. Sibuk dengan urusan masing-masing. Akhirnya kami memilih mushala dekat kontrakan sebagai tempat perburuan.
Kami baru tau mushala itu hanya menyiapkan sedikit nasi bungkus. Awalnya kami mendapat dua bungkus nasi. Tiba-tiba seorang anak menumpahkan makanannya. Berhubung nasi bungkus sudah habis. Aku memberikan jatahku padanya. Alhasil, kami makan nasi sebungkus bertiga. Romantis bukan?
Keesokan harinya kurang beruntung lagi. Perburuan kami gagal. Banyak anak-anak yang berebut. Kami duduk diam mendengarkan kajian sembari menunggu antrian sepi. Detik-detik terakhir menuju waktu berbuka, jreng, jreng… nasi bungkus habis. Hanya mendapat segelas teh hangat sekedar untuk membatalkan puasa.
“Jangan bilang hanya. Syukur sudah dapat teh. Yang penting sehat. Nanti aku traktir makan di luar deh,” kata-kata Devi begitu menyejukkan hati menghibur kami. Aku tidak yakin mana yang lebih menghibur antara ‘yang penting sehat’ atau tentang ‘traktir makan’.
Keesokan harinya, kami terpaksa menunda roadshow. Inilah ancaman yang paling mengkhawatirkan. Acara buka bersama dengan teman kuliah, organisasi, komunitas, dan lain-lain. Usaha survive kami kacau gara-gara ini. Makan di warung makan membuat kantong kempes. Jika berusaha menghindar nanti dikata-katain gak setia kawan lah, sombong lah, sok sibuk lah, ini lah, itu lah. Hufff…
Hari ke lima belas.
“Aku tadi lihat spanduk. Masjid di Jogojaya nyiapin 1500 porsi, euy,” kata Nina dengan semangat.
“Jauh, euy. Cari yang dekat aja,” Devi malas menanggapinya.
Kami berdua memandang Devi dengan tatapan pamungkas. Tak kuasa melawan senjata itu akhirnya Devi menyerah. “Ya, ya, ayo berangkat.”
Jauh memang, apalagi harus melihat antrian yang sangat panjang setibanya di sana. Devi sudah lemas dibuatnya. Tiba giliran kami mengambil makanan.
Nina melirikku.“Surga dunia, gule kambing, euy.
Aku melirik Nina menunjukkan sesuatu. “Nikmat Allah mana lagi yang kau dustakan. Es buah, euy.
Tak sia-sia perjuangan kami jauh-jauh datang kemari dan berdiri lama mengantri. Beberapa hari setelahnya kami masih belum bisa move on dari masjid ini. Menu-menu hari selanjutnya tidak kalah menggoda. Seperti; nasi padang, soto daging, dan sate ayam.
Hari ke dua puluh tiga.
“Besok aku mudik. Ini hari terakhir roadshow kita. Harus spesial, euy,” kata Nina.
“Emm… Maaf aku gak bisa. Hari ini aku ada acara sama komunitasku,” jawabku.
“Yah, gak asik, euy.
“Kalian ikut acaraku aja yuk.”
“Kemana?” tanya Devi.
“Nanti juga tau.”
Mereka setuju untuk ikut.
Inilah komunitas yang aku ikuti selama beberapa tahun terakhir. Blood for Others, atau sering disebut BFO. Yakni komunitas para pendonor darah. Kami memiliki cara sendiri untuk menunjukkan rasa syukur atas kesehatan yang Allah berikan dengan cara berbagi darah. Setetes darah sehat kita merupakan harapan hidup bagi mereka yang membutuhkan. Sakitnya suntikan jarum tidak ada apa-apanya dibanding sakitnya mereka melawan kematian. Di samping itu, tubuh kita juga akan merasa lebih sehat jika rutin melakukannya. Buktinya, aku jarang sakit dan bisa berdiri di sini.
Sore kali ini kami membagikan selebaran berisi tulisan tentang donor darah dan stiker BFO kepada para pengendara. Beberapa di antara kami membagikan bungkusan nasi dan air mineral kepada anak jalanan, tukang becak, dan penjual koran.
“Gak nyangka ya, Sa.” Nina berbicara padaku. “Gak nyangka bantu orang seperti ini ngalah-ngalahin senangnya makan gule gratis.”
“Hmm… Jangan salah. Nikmatnya beda, euy. Gak ada tandingannya,” jawabku.
“Ada lagi yang lebih nikmat, euy,” timpal Devi.
“Apa?” Nina penasaran.
“Badan sehat, makan bareng-bareng sama keluarga di rumah.”
Kami bertiga tertawa bersama, lebih tepatnya menertawakan tingkah kita selama ini.


!=!Selesai!=!

Hak cipta © Juni 2017

Resensi Film : SERENDIPITY

Judul           : Serendipity Rilis            : 9 Agustus 2018 Genre         : Drama/Romance Sutradara   : Indra Gunawan Negar...